Sekapur Sirih
Dengan terlebih dahulu mengucapkan syukur kepada
Allah Subhanahu Wataala dan berterimakasih padaNya, lalu
menyampaikan salam kepada junjungan Nabi Muhammad Sallalahu Alaihi Wasallam,
pada tanggal 15 Mei 1969 ayah telah berusia 70 tahun. Sebuah perjalanan hidup
panjang yang telah menempuh tiga zaman: pemerintahan Hindia Belanda,
pendudukan Fascist Jepang, dan Alam Kemerdekaan NRI; mulai Aceh di ujung Utara
pulau Sumatera sampai Palembang di Selatan, menghadapi beragam rintangan dalam
perjalanan hidup. Juga telah membesarkan dan membimbing putra dan putri,
menjadi manusia-manusia dewasa hingga berumah tangga; sempat menyaksikan
kehadiran sejumlah cucu yang sedang tumbuh.
Banyak didikan yang ayah dan ibu berikan
kepada kami: anak-anak, terlebih ayah sebagai seorang Guru Kepala (Guru Godang)
dibesarkan di kampung halaman silam, juga peminat adat Batak asal Bona Bulu,
juga penggemar persaudaraan keluarga besar Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga).
Ayah memperlihatkan apa yang dinamakan: “hormat mar mora”, ”manat mar
kahanggi”, dan “elek mar anak boru” terhadap kerabat yang datang dari Bona Bulu
ke perantauan, baik dalam prilaku maupun lewat surat-menyurat. Ayah menunjukkan
hormat bermora kepada marga Siregar dari Bunga Bondar yang mendatangkan lima
generasi ibu pada marga Harahap dari Hanopan secara berturut-turut. Demikian
pula terhadap kahanggi dan anak boru yang datang ke Lubuk Linggau bertemu
dengan ayah dan ibu di rumah, baik mereka yang datang dari bona Bulu begitu
pula perantauan.
Ayah tidak lupa menyampaikan pesan
kakeknya yang mengatakan: tua ni na mangholongi, ni haholongi (kelebihan si
penyayang, di sayangi) sebuah ajaran hidup yang baik diingat. Ayah juga
gemar mengutip apa yang ditulis kakeknya dalam sebuah wasiat saat akan
meninggalkan Tanah Air menuju Tanah Sama uci bulan Desember tahun 1927 silan,
dalam sebuah pantun sngkat: "Indalu batiti indalu batonang, indalu basitik
manuk butongan (alu-alu bertikai saat menumbuk padi membuat ayam-ayam
disekitarnya kenyang). Kedua pesan bermaksud untuk membangun kerukunan dalam
hidup, baik maupun masyarakat dimanapun berada.
Selama berdiam di Lubuk Linggau yang
begitu lama, ayah dan ibu mempunyai banyak kenangan, mulai
merayakan Idul Fitri dengan kunjungan murid-murid Sekolah Rakyat VI no.1,
begitu pula orang-orang tua murid serta para rekan guru yang berkunjung
bersilaturrahmi, terlebih ayah ketika itu adalah guru yang tertua di sekolah di
jalan Permiri Lubuk Linggau. Kenangan lain datang juga dari foto-foto kenangan
yang dibuat murid-murid kelas VI yang akan meninggalkan sekolah bersama para
guru yang dibuat setiap tahun. Foto-foto ini diambil di depan sekolah,
dilengkapi papan tulis dengan pesan kenangan yang diukirkan seorang murid terbaik
yang akan meninggalkan perguruan.
Akhirulkalam, tak ada gading yang tidak
retak, maka apabila dalam penilaian ayah dan ibu kepada kami di waktu yang
lampau terdapat hal-hal yang kurang berkenan di hati ayah dan ibu tentang
sesuatu dan lain hal baik prilaku demikian pula perbuatan, sudilah kiranya ayah
dan ibu memaafkan kekurangan dan kesalahan yang kami perbuat. Dalam lubuk
hati kami yang paling dalam bersemayam hanya rasa syukur dan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada Allah Subhanahu Wataala yang telah mengkaruniakan
kepada kami ayah dan ibu sebagaimana apa adanya.
Pendahuluan
Desa Asal
Hanopan adalah sebuah desa yang terletak di jalan-raya
menghubungkan Sipirok dengan Siborongborong lewat Sipagimbar di Kabupaten
Tapanuli Selatan, dengan Pangaribuan dan Sipahutar di Kabupaten Tapanuli Utara.
Awalnya jalan ini hanyalah lintasan belantara yang dilalui warga saat bepergian
antar kampung, kemudian oleh pemerintah Hindia Belanda dijadikan salah satu jalan-raya
menghubungkan Onderafdeeling (sub-bagian) Tapanuli Selatan dengan Onderafdeeling
Tapanuli Utara, yang dikenal dengan: “jalan pahulu”. Adapun jalan-raya lain yang
juga menghubungkan kedua Onderafdeeling
diatas, ialah yang menghubungkan Sipirok dengan Taru-tung lewat Sarulla dan
Onan Hasang, dikenal dengan: “jalan pahae”. Kedua jalan-raya lalu men-jelma menjadi
uratnadi ekonomi kedua Onderafdeeling Tanah Batak bagian tengah.
Baginda Pandapotan
Kini Hanopan termasuk kedalam Kecamatan Arse, Kabupaten Sipirok,
darimana ayah Sutor Harahap (S. Harahap), gelar Baginda Pandapotan berasal. Ayah
lahir di Bunga Bondar pada tanggal 15 Mei 1898, putra sulung Ompung Abdul Hamid
Harahap, gelar Sutan Hanopan (1876-1939) dengan ibu Ompung Dorima Siregar,
putri Sutan Bungabondar; lalu dibawa ke Hanopan dimana orang-tuanya berada.
Kakeknya Amang Tobang Sengel Harahap, gelar Baginda Parba-lohan (1846-1928), ialah
orang yang mamungka (mendirikan) kampung itu, ketika beliau masih berdiam di Bunga
Bondar silam. Beliau kemudian diangkat menjadi Raja Pamusuk yang perta-ma, saat
kampung diresmikan menurut Adat Batak menjadi bonabulu pada tahun 1885. Ayah adalah
putra sulung dari duabelas orang bersaudara, 8 (delapan) orang putra dan 4
(empat) orang putri.
Ayah lahir
dari keluarga berpengaruh di kampung, tidak semata Daerah Aliran Sungai (DAS)
Aek-Silo dimana: Arse Jae, Huta Padang, Napompar, Roncitan, Huta Tonga,
Simatorkis, Bahap, Purba Tua (Pagaran Tulason), Muara Tolang dan Tapus berada; tetapi
juga hingga ke bagian lain Luhat Sipirok ketika itu. Ayah banyak menghabiskan
masa kecilnya di kampung bersama kedua orang-tua, paman, begitu juga saudara
kandung yang besar jumlahnya, tetapi juga saudara sepupu yang tidak sedikit bilangannya
dari dua orang paman yang juga tinggal di Hanopan, masing-masing: Kasim
Harahap, gelar Mangaraja Elias Hamonangan, dan Rahmat Harahap, gelar Sutan
Nabonggal.
Keluarga-keluarga bermarga
Harahap dimanapun berada, mulai Tapanuli hingga ke tanah peran-tauan memang
seasal, artinya mereka datang dari nenek moyang pemersatu yang sama oleh ke-samaan
marga. Akan tetapi, karena berbilang abad waktu telah berlalu, Sang pemersatu yang
menjadi asal marga berikut tempat kediaman dan keterangan lainnya, tidak dapat
ditemukan lagi dan tinggal nama marga semata. Lalu muncul marga-marga Harahap
yang datang dari berbagai Huta (Kampung) dan Luhat (Daerah), serta tempat lainnya
di Tapanuli. Diantara mereka, terdapat marga Harahap di berbagai tempat di Bona
Bulu menyatakan diri sebagai Sipungka Huta (Pendiri Kampung), dilain fihak ada
pula keluarga-keluarga marga Harahap yang tidak me-nyatakan diri sebagai Sipungka
Huta, namun mempunyai hubungan kekerabatan dengan pendiri kampung di sesuatu
tempat di Tapanuli.
Masih banyak keluarga marga
Harahap yang mengetahui kampung yang didirikan leluhur merek silam lewat kahanggi
(sanak saudara) yang masih berdiam di kampung, dan peninggalan diwa-riskan: Bagas
Godang (Rumah Adat), sawah, ladang, catatan keluarga, sampai dengan para saksi.
Keluarga-keluarga marga Harahap yang tidak mengetahui lagi kampung asal mereka di
Bona Bulu silam, dapat menemukan asal-usul mereka dari hubungan kekerabatan
dengan keluarga-keluarga para pendiri kampung yang dapat ditelusuri melalui
catatan tarombo yang dimiliki sampai dengan yang masih tersimpan dalam ingatan.
Begitu pula dengan marga-marga Harahap yang telah bermukim di perantauan, mereka
juga menemukan asal usul mereka di Bona-Bulu silam le-wat hubungan kekerabatan
dengan para pendiri kampung menurut garis laki-laki (patrlenial), seperti:
ayah, kakek, Amang Tobang, dan seterusnya keatas sejauh yang masih dapat diketahui.
Untuk memelihara hubungan
kekerabatan dalam keluarga yang semarga, begitu juga hubungan kekerabatan antara
berbagai marga dalam masyarakat Batak, dibuatlak “tarombo”. Tarombo ada-lah catatan
keluarga, dalam mana nama-nama anggota keluarga disuratkan menurut garis
laki-laki. Awalnya catatan dituliskan pada kulit kayu, bilah bambu, atau lainnya
dalam aksara Batak yang melahirkan bangun piramida yang dinamakan: tarombo.
Tarombo dalam bahasa Indonesia disebut: “Pohon Keluarga”, datang dari bahasa Belanda
“stamboom”, atau “family tree” dalam bahasa
Inggris. Tarombo dapat juga disebut: “silsilah keluarga”, karena merupakan
kumpulan atau himpunan nama-nama orang yang memiliki hubungan kekerabatan dalam
garis kebapaan (patrilenial) yang datang dari satu atau lebih marga, dalam hal
ini: marga Harahap dari Hanopan beserta keluarga besarnya.
Di Tapanuli, kumpulan orang-orang
semarga yang membentuk sebuah silsilah keluarga dinama-kan: “kahanggi”
(sepersaudaraan), karena datang dari marga yang sama. Adapun tugas utama ka-hanggi
ialah melindungi para anggotanya dari ganggungan/ancaman yang datang dari luar.
De-ngan masuknya agama Islam ke nusantara sekitar abad ke-13 Masehi, lalu ke
Tanah Batak dalam Perang Paderi yang memperkenalkan aksara Arab, tarombo lalu disuratkan
dengan aksara yang baru. Dan dengan diperkenalkannya huruf Latin oleh
pemerintah Hindia Belanda menjelang abad ke-20 Masehi, tarombo yang dipelihara
dan disimpan keluarga-keluarga marga Harahap di ber-bagai kampung dari Bona-Bulu
hingga tanah perantauan lalu dialihkan penulisannya kedalam aksara Latin.
Dari silsilah keluarga ini dapa ditemukan hubungan
kekerabatan antara keluarga-keluarga marga Harahap yang berdiam di Bona-Bulu
dengan mereka yang telah ada di tanah perantauan. Lewat tarombo demikian juga
diketahui pertalian darah antara berbagai marga yang ada di Tanah Batak yang membentuk:
“Dalihan Na Tolu (Tungku Yang Tiga)”, dan dikenal dengan “keluarga besar” dalam
masyarakat Batak, mulai dari yang masih tinggal di kampung halaman sampai
dengan yang telah bermukim di
perantauan, nusantara maupun mancanegara. Hingga kini tarombo masih dipelihara
dan dikembangkan oleh sejumlah marga masyarakat Batak, terutama oleh mereka Sipungka
Huta di Bona Bulu. Tarombo diperoleh dari warisan, demikian juga yang dikembang-kan
kemudian melalui penelusuran ulang, sehingga dapat disampaikan kepada generasi
penerus baik di Tapanuli maupun tanah perantauan.
Sipirok
Setelah mencapai usia sekolah, ayah
kemudian hijrah dari Hanopan ke Sipirok
untuk mengikuti pendidikan Barat dan bersekolah di “Sekolah Gouvernement” yang
dibuka pemerintah Hindia Belanda di kota itu dengan bahasa pengantar: Batak dan
Melayu. Ayah yang gemar belajar berhasil menyelesaikan “Sekolah Gouvernement” hingga
kelas V ketika itu tepat pada waktunya, dan pada tanggal 25 Juli 1913 menerima
surat tanda tammat belajar berupa selembar ijasah di Sipirok.
Binjai
Usai menammatkan Sekolah
Gouvernement, dari Sipirok ayah yang awalnya ingin menjadi guru Volkschool
(Sekolah Rakyat), lalu mendaftarkan diri mengikuti “Candidaat Kweekeling Gouver-nement
School” yang dibuka pemerintah Hindia Belanda di Binjai, Sumatera Timur, tidak
jauh dari Medan. Ayah lalu meneruskan pendidikan menjadi Hulponderwijzer
(Gurubantu) di Koeta Radja yang diakhiri dengan ujian. Ujian kedua pendidikan dilangsungkan
di Koeta Radja (Banda Aceh) dan ayah kemudian memperoleh apa yang dinamakan: Akte
Van Bbekwaamheid Als Kweekeling”, dan “Akte Van Bekwaamheid Als Hulpondewijzer,
yang dikeluarkan di Batavia.
Aceh
Aceh terletak di sebelah Utara
Tanah Batak, adalah wilayah luas peninggalan “Keurajeuën Acèh Darussalam” (Kerajaan
Aceh Darussalam), disingkat KAD, yakni bumi kesultanan Aceh yang pertama kali dibangun
oleh Sultan Mughayat Syah pada tahun 1496; ialah tempat yang akan dituju ayah
pertama kalinya merantau setelah menyelesaikan Sekolah Guru di Binjai. Merantau
ke Aceh ketika itu merupakan sebuah tantangan yang menarik perhatian tidak
hanya bagi ayah, tetapi juga untuk kebanyakan anak Tapanuli lainnya yang
merantau kesana untuk mencari pekerjaan dan pengalaman ketika itu.
Kerajaan Aceh Darussalam dengan ibukota
Kota Raja (Banda Aceh) berjaya lebih dari lima abad lamanya, dan dipimpin para Sultan
(laki-laki) dan Sultanah (perempuan) sepanjang 35 generasi (1496-1903), berabad
sebelum NRI diproklamirkan. Terluas terluas wilayahnya tatkala berada dibawah pimpinan
Sultan Iskandar Muda (1608-1637), yakni: meliputi seluruh
pulau Sumatera termasuk kepulauan mengitari, semenanjung Malaya, dan wilayah Jawa
Barat. Karena kedudu-kannya yang strategis di pintu laut menuju ke Asia, KAD
membuka hubungan diplomatik de-ngan negara-negara disekiar lautan Hindia.
Juga dengan Kesultanan Utsmaniyah
dari Turki (1299–1923), yang lebih dikenal dengan Kekaisaran Turki Ottoman, ketika yang akhir ini masih menjadi
kekhalifahan Islam terbesar dunia dan berhasil menaklukkan Konstantinopel yang
didu-duki pasukan Eropa.
Keurajeuën Acèh Darussalam kemudian terlibat
dalam mempertahankan kekuasaan di pintu laut Asia berkepanjangan: sejak awal
abad ke-16 dengan Portugal, lalu abad ke-18 dengan Britania Raya (Inggris), dan
terakhir dengan Belanda. Bahkan ketika negara akhir ini
mendapat kemerde-kaan dari Spanyol tahun 1648, KAD mengutus wakilnya ke negeri
kincir angin itu. Belanda me-merlukan waktu panjang untuk mematahkan
perlawanan “Keurajeuën
Acèh Darussalam” dengan sejumlah perang: pertama 1873-1874, dilanjutkan kedua
1874-1880, diteruskan ketiga 1881-1896, dan terakhir keempat 1896-1910. Pada tahun
1896 Belanda mengutus pula Dr. Christian Snouck Hurgronje, seorang ahli Islam
dari Universitas Leiden, yang mendapat kepercayaan
dari pemimpin Aceh ketika itu, guna menaklukkan perlawanan Muhammad Daud Syah yang dibantu Teuku Umar dan Panglima Polim. Akhirnya,
Sultan Aceh ke-35, dan terakhir ini berhasil ditak-lukkan Belanda pada tahun
1903. Dengan demikian Tanah Rencong, yang juga dikenal dengan Serambi Mekah
yang tersohor itu, berada dibawah
kekuasaan pemerintah Hindia Belanda.
Setelah menyelesaikan “Candidaat
Kweekeling Gouvernement School” di Binjai, ayah lalu mengikuti Examen
Kweekeling (Ujian Kwekeling) yang berlangsung di Koeta Radja (Banda Aceh) pada
tanggal 23 -24 Desember 1914, dan berhasil menjadi Onderwijer (Guru) yang akan
ditem-patkan pada sebuah Volkschool di Aceh.
Kaloeé
Dengan surat
keputusan no. 997/15, tanggal 10 Nopember 1914, yang dikeluarkan oleh “De Ci-viele
en Militaire Gouverneur van Atjeh en Ondehoorigheden” (Pemerintah Sipil dan
Militer A-ceh dan Sulawesi) di Koeta Radja, ayah ditempatkan mengajar di Volkschool
Kaloeé-Kwala Simpang, Onderafdeeling Lho’ Seumawe. Agar ayah dapat cepat tiba di
tempat bertugas, dari Banda Aceh ayah dilengkapi Verklaring (Keterangan) yang diperlukan
dikeluarkan oleh “De Adjunct Inspecteur van het Inland Onderwijs in de IVde
Afdeeling” (Wakil Inspektur Pendidikan Dalam Negeri sektor IV) dari Koeta
Raja.
Pada tahun
1915, ayah menerima “AKTE VAN BEKWAAMHEID ALS KWEEKELING” (Akta Kompetensi untuk
Kweekeling) yang dikeluarkan di Batavia tanggal 4 Februari 1915. Pada tahun
1917, ayah menerima lagi “AKTE VAN BEKWAAMHEID ALS HULPONDERWIJZER” (Akta Kompetensi
sebagai Gurubantu) tanggal 5 Januari 1917, juga dikeluarkan di Batavia.
Pada tanggal 12
Januari 1915, ayah mengirim sepucuk surat ke Hanopan dari Kaloeé mengabarkan
keadaan di rantau kepada kedua orang-tua, ompung, dan Amang Tobangnya.
Dengan surat keputusan no. 103/15, tanggal
10 Februari 1917, yang dikeluarkan “De Civiele en Militaire Gouverneur van
Atjeh en Ondehoorigheden” di Koeta Radja, ayah menerima pening-katan penghasilan selama bertugas di
Kaloeé Tamiang.
Blang Poelo
Dengan surat
keputusan no. 198/15, tanggal 29 April 1918, yang dikeluarkan “De Civiele en
Militaire Gouverneur van Atjeh en Ondehoorigheden” di Koeta Radja , ayah lalu dipidahkan dari Kaloeé (Tamiang) ke Volkschool Blang
Poelo (Lho’ Seumawe).
Pada tahun 1918, ayah kembali ke kampung
untuk bersua dengan ibu Molun Siregar, dan yang akhir ini putri Mangaraja
Pangajian, juga bernama Mangaraja Soaloön, keturunan Ja Pangajian dari Bunga
Bondar, Tapanuli Selatan; iboto Aaron Diatas asal Bunga Bondar kala itu menjadi
Asisten Demang di Sorulangun Jambi.
Pada hari Rabu
tanggal 12 Nopember 1919 (18 Safar 1838 H), tepat jam 09.00 pagi, lahir anak a-yah
yang sulung bernama si Boejoeng di Blang Lancang, lalu petang harinya jam 18.00
dengan auto ia dibawa pulang ke rumah di Lhok-Seumawe. Kenduri lalu
dilangsungkan untuk memberi nama Amir
Hamzah, disusul kèkah hari Senin tanggal 14 Nopember 1919, dan keesokan harinya
dicukur habis rambutnya. Akan tetapi sayang
putra sulung ayah tidak berumur panjang, dan pada malam tanggal 23 jalan 24
Juni 1921, jam 08.20 ia meninggal dunia.
Dengan surat
keputusan no. 509/15, tanggal 20 Februari 1920, yang dikeluarkan “De Civiele en
Militaire Gouverneur van Atjeh en Ondehoorigheden” di Koeta Radja, ayah kembali
mendapat tambahan penghasilan selama
bertugas di Volkschool Blang Poelo (Lho’ Seumawe atau Lhok-Seumawe, Aceh Utara).
Dengan surat
keputusan no. 1550/15, tanggal 20 Agustus 1920, dikeluarkan “De Civiele en
Militaire Gouverneur van Atjeh en Ondehoorigheden” di Koeta Radja, ayah mendapat
tambahan penghasilan sebagai Hoofd der School (Kepala Sekolah) Volkschool di Blang
Poelo.
Dengan surat
keputusan no. 47, tanggal 4 Januari 1922 di Bandung, dikeluarkan “Beschikking
an het hoofd der Ie Afdeeling van het Department van Oorlog”, ayah memperoleh jawaban
atas per-mohonan menjadi seorang “penulis sipil” di Afdeeling van het Departement
Van Oorlog (Satu bagian dari Departemen Keamanan di Aceh saat itu).
Pada hari Kamis
tanggal 11 Januari 1923 (23 Djoemadilawal 1841 H), antara jam 06.00-07.00 pagi, lahir anak ayah kedua di Simpang IV
Lhok-Seumawe, yaang diberi nama Sangkot Sjarif Ali Toea. Karena putra ayah yang
sulung telah tiada, maka anak ayah kedua naik menjadi putra sulung.
Dengan surat
keputusan no. 6/15, tanggal 24 Mei 1923 di Lho-Seumawe, De Assistant
Resident der Noordkust van Atjeh, ayah
dipidahkan bertugas dari Blang Poelo ke Paja Rabo (Lhok Seumawe) sekaligus menjadi
Hoofd der Volkschool (Kepala Sekolah).
Dengan surat
keputusan no. 1337/15, tanggal 22 Nopember 1923, “De Civiele en Militaire
Gou-verneur van Atjeh en Ondehoorigheden” di Koeta Radja, ayah mendapat
tambahan pendapatan sebagai Hoofd der School Volkschool di Paja Rabo, Landschap
Sawang, Onderafdeeling Lho-Seumawe.
Pada tanggal 7
Februari 1925, hari Djumat malam Sabtoe jam 02.15, lahir anak ayah ketiga di Pajarabo
dan diberi nama si Marasuddin. Akan tetapi sayang, putra ketiga ayah ini tidak
berumur panjang, dan pada hari Selasa tanggal 12 Juni tahun 1925, ia meninggal
dunia.
Pada tanggal 20
Maret 1928, ayah kembali mengirim surat ke Hanopan dari Paja Rabo mengabarkan keadaan keluarga di Aceh kepada kedua
orang-tuanya di Hanopan.
Ayah menerima Surat
Keterangan dari “Inlandsche Schoolopziener by het Inlandsch Onderwijs te Lho’
Seumawe” (Penilik Sekolah Pendidiksn Dalam Negeri di Lhok Seumawe), dikeluarkan
di Lhok Seumawe tanggal 20 Januari 1928, yang menerangkan tanggungjawab pelaksanaan
tu-gas dalam bidang pendidikan.
Pada tanggal 31
Juli 1927, di Hospital Lhok-Seumawe pada hari Minggu jam 22.00, lahir anak a-yah
yang keempat, dan diberi nama si Sangkot Hamid.
Dengan surat keputusan
no. 7/15, tanggal 23 Mei 1928, dikeluarkan “Gouverneur van Atjeh en
Ondehoorigheden. Oderafdeeling Lhoseumawe”, ayah menerima “Surat Kelepasan”
atas permin-taan sendiri karena ingin mencoba bekerja di bidang lain.
Ayah
meninggalkan bidang pendidikan lalu mencoba bekerja di Pandhuis (Pegadaian
Negeri). Dengan surat keputusan no. 2982/1, tertanggal 25 Juli 1929 dari Pandhuis
Medan, ayah diangkat menjadi beamte in de 6e Afdeeling te Medan (pegawai
Pegadaian Negeri Cabang-6 Medan), dan atas keinginan sendiri menentukan 2 (dua)
lokasi Kuala Simpang dan Koeta Radja (Atjeh).
Pada tahun
1929, ayah mendapat diploma setelah dengan baik menyelesaikan ujian “Koninklijk besluit van 27 Agustus 1913, No.64, in
Indisch Staatsblad No. 658 (het z.g. klein-ambtenaars-examen)”, yakni keputusan
Kerajaan Belanda tanggal 27 Agustus
1913, no. 64, Jurnal Hukum Hindia Belanda No. 658, yang juga dikenal
dengan ujian kecil-pegawai). Ujian berlangsung da-lam bahasa
Belanda ini dilangsungkan di Koeta Radja tanggal 14 Desember 1929.
Dengan surat keterangan “Hoofd
van Plaatslijke Bestuur Landspandhuis” (Kepala Pegadaian Negeri setempat)
tangal 27 Januari 1930 dikeluarkan di Koeta Radja, kehadiran ayah menjalan-kan
tugas sebagai inspecteur di kota itu diterangkan dengan jelas.
Pangkalan Berandan
Setelah menggeluti bidang
pendidikan, lalu bidan Pegadaian Negeri, ayah mencoba lagi bekerja di bidang
perminyakan. Itulah alasannya mengapa N.V. De Bataafsche Petroleum
Maatschaappij Pangkalan Berandan mengeluarkan
sebuah Verklaring (Surat Keterangan) yang menyatakan bahwa, sejak dari 31
Januari 1930 hingga 20 Oktober 1933, ayah menjadi Cranie (Pegawai Personalia) pada
De Bataafsche Petroleum Maatschaappij di Pangkalan Brandan. Menurut kete-rangan
Uda Maradjali Harahap, saat itu ayah sekeluarga berdiam di Alur Gantung Pangkalan
Be-randan, tidak jauh dari Lapangan Bola kota itu.
Pada tanggal 29
Maret 1930, lahir anak ayah yang kelima Pangkalan Brandan dan diberi nama si
Sangkot Muhammad Anwar.
Pada tanggal 22 Februari 1933,
lahir anak ayah yang keenam di Pangkalan Brandan dan diberi nama si Sangkot Muhammad
Arifin.
Pladjoe
Dari Pangkalan Brandan ayah lalu dipindahkan
ke Pladjoe di Sumatera Selatan. Pada tanggal 26 Desember 1935 ayah menerima
surat mengabarkan kenaikan penghasilan sebagai Cranie III, dan saat itu bertugas
di Afdeeling/Terrein: Kenawang. Dari lapangan ini ayah lalu berpindah ke sejumlah
ladang pencarian minyak di Sumatera Selatan, antara lain: Pangkalan Lilin,
Kuala Tungkal, Sungai Lilin, Bajoe Bang, dan lainnya. Terakhir, tahun 1939 ayah
dipindahkan ke la-dang pencarian minyak Talang Djimar tidak jauh dari Perabumulih.
Perkembangan di Eropa
Di Eropa, perjanjian Versailles
yang mengatur perdamaian antar negara-negara di belahan bumi itu yang dibidani
oleh: Perancis, Inggris dan Amerika Serikat di penghujung Perang Dunia ke-I
silam, tidak lagi mewakili aspirasi banyak fihak di kawasan yang luas itu.
Perlucutan senjata un-tuk menghindarkan meletusnya perang antara negara besar
di Eropa yang disepakati untuk menjaga perdamaian dunia tidak lagi dihormati.
Konferensi ekonomi dunia di Locarno tahun 1925, begitu pula di London tahun
1933, menemui kegagalan. Gagasan pembentukan Liga Bangsa-bangsa (League of
Nations) untuk memelihara perdamaian dunia ketika itu, tidak akan kuat manakala
Amerika Serikat tidak disertakan, dan tinggal gagasan yang tak akan pernah terwujud,
konon lagi mempunyai kekuatan memaksa.
Setelah berhasil menjadi ketua NSDAP
(Nationalsozialistische Deutsche Arbeiter Partei, atau Partai Pekerja Nasionalsosialis
Jerman), disingkat NAZI, maka pada tahun 1921 Adolf Hitler berkampanye untuk
membangun kembali Jerman yang telah ditaklukkan dalam Perang Dunia ke-I. Dengan
buku berjudul: “Mein Kamph”, atau Perjuanganku, kini dibawah kepemimpinan-nya
Jerman berusaha untuk bangkit kembali. Pada tahun 1933 Adolf Hitler lalu mengangkat
di-rinya menjadi Pemimpin Tertinggi (Reich Chancellor) di negerinya untuk
membangun Jerman.
Fascistme adalah sistim politik totaliter sayap-kanan,
ditandai oleh penguasaan negara atas semua aktivitas bangsa: politik, ekonomi,
industri, sosial, dan lainnya. Semua kegiatan dilaku-kan atas nama negara untuk
bangsa, sebuah ajaran Nasionalisme Extreem. Negara adalah dewa dalam sebuah negara
fascist, muncul dari mithologi Imperium Romanum (Kemaharajaan Roma), yang
terpaksa bertindak imperialist agar selalu siap berperang demi kelangsungan
hidupnya. Hegel (1770-1831) adalah guru spiritual ajaran fascisme karena
mengajarkan sudut pandang po-litik: negara adalah penjelmaan Tuhan di bumi,
pencipta hak, sedangkan bangsa ialah objeknya, dan perorangan (individu)
sebagai warga negara tidak mempunyai arti, namun harus siap untuk berkorban demi
kepentingan negara. Adolf Hitler lalu menjalankan Nazisme, sebuah ajaran pi-lihan
fascistme yang memberlakukan orang Jerman sebagai herrenvolk (bangsa tuan) di
dunia, ras tertinggi umat manusia yang berada dibawah pimpinan Führer. Tidak
boleh ada kaum oposisi dalam negara, begitu pula para pengeritik (kritikus).
Nazi lalu bersumpah untuk kembali merebut seluruh tanah Jerman yang hilang
dalam Perang Dunia ke-I silam.
Tidak ada kekuatan besar di bumi yang mampu membendung
agresi militer yang berlangsung di Eropa saat itu. Jepang, sekutu Jerman di
belahan bumi Timur, tahun 1931 menyerbu Manchuria di Cina dan mendudukinya
sekali. Italia dibawah pimpinan Benito Mussolini, sekutu Jerman di Eropa
Selatan, tahun 1935 mencaplok Ethiopia yang menyebabkan kegusaran kerajaan Inggris.
Pierre Laval dari Perancis gagal membantu Inggeris mempertahankan negara di Afrika
Utara itu dari perlakuan agresi yang menimpanya. Tidak lama kemudian, Jerman
pimpinan Adolf Hitler juga menerobos Rhineland yang berada dibawah penguasaan
Perancis lalu mendudukiya, dan Stanley Baldwin dari kerajaan Inggris pun tidak
dapat mendatangkan bala bantuan diperlukan.
Pada tahun 1936 organisasi paramiliter Jerman, dikenal
dengan: SA (Sturm Abteilung), SS (Schutz Staffel), dan RAD (Reichs Arbeits
Dienst) telah berjumlah 1,5 juta orang. Dengan ter-lebih dahulu membunuh
Kanselir Austria Engelbert Dollfuss, dan menempatkan Kurt von Schus-schnigg
sebagai boneka menggantikan, maka pada tahun 1936 Jerman menyerbu negeri di ba-gian
selatan itu dengan hanya mengerahkan paramiliternya. Pada tanggal 14 Maret 1939
Adolf Hitler memanggil Presiden Czekoslovakia untuk menemuinya di Berlin.
Hitler lalu menuduh dan memarahinya habis habisan dan mengancam akan
menghancurkan Praha dengan serangan udara. Dengan demikian hanya dalam semalam
Czekoslovakia (kini negara-negara Czeko dan Slovakia) langsung dibuatnya
bertekuk lutut, dan berubah menjadi salah sebuah negara budak Jerman.
Pangkalan Lilin
Ketika ayah
bertugas di Pangkalan Lilin, Sumatera Selatan, pada tanggal 7 Nopember 1936,
lahir anak ayah yang ketujuh dan diberi nama si Abdoerrasjid. Akan tetapi karena
dengan nama itu kesehatannya tidak sebaik yang diharapkan, namanya lalu
diganti dengan Muhammad Rusli.
Talang Djimar
Kemudian setelah ayah dipindahkan
ke Talang Djimar, pada hari Senin tanggal 21 Nopember 1938, lahir pula anak
ayah yang kedelapan dan diberi nama si Siti Fatimah.
Pada tanggal 27 Desember 1939,
Abdul Hamid Harahap, gelar Sutan Hanopan, orangtua ayah yang berdiam di Bagas
Godang Hanopan berpulang ke Rakhmatullah. Ayah yang sangat berduka mendapat
pinjaman kendaraan dari Maatschappij untuk kembali ke kampung dari Talang
Djimar degan jalan darat. Setelah selesai menghadiri acara duka keluarga di
kampung halaman, ayah se-keluarga kembali lagi ke Talang Djimar untuk meneruskan
pekerjaan.
Menyadari Perang Asia Timur Raya
yang dikobarkan Jepang telah memasuk nusantara, Ompu ni Amir di Hanopan lewat
surat beliau meminta ayah bersama keluarga kembali ke kampung untuk
menyelamatkan diri. Meski ayah dengan beberapa rekan seperantauan telah melakukan
persiapan untuk tinggal di Talang Djimar melewatkan perang, akan tetapi pada
awal tahun 1942 ayah me-mutuskan mengungsi pulang ke Hanopan berkumpul dengan
kerabat lainnya di kampung.
Pada tanggal 1 September 1939,
Jerman lalu menyerbu ke Polandia dengan theori perang modern gagasan Jenderal
muda Heinz Guderian. Diawali serangan udara jam 06.00 waktu setempat, Divisi-3
Jerman pimpinan Jenderal Fedor von Bock menerobos dari Prusia Timur menuju ke tenggara. Ia dibantu Divisi-4 Jerman pimpinan
Jenderal Günter von Kluge lalu membobol perbatasan dengan Polandia di Timur.
Pukulan dua kali lebih besar lalu dilancarkan Divisi-8 Jerman pimpinan Jenderal
Johannes von Blaskowitz, dan Divisi-10 pimpinan Jenderal Siegmund List yang mendobrak
Polandia dari Utara Czekoslowakia, membuat perlawanan negara akhir ini langsung
porakporanda. Akibatnya, pasukan Polandia pimpinan Marsekal Edward Smygly
Ryds menjadi tidak lagi terkoordinasi di lapangan membuat pemerintah
negeri ini terpaksa melarikan diri. Jerman berhasil menggunting habis seluruh
perlawanan Polandia dalam sebuah blitzkrieg (perang kilat) memanfaatkan
kendaraan motor berlapis baja kecepatan tinggi, nyaris tidak mendapat
perlawanan yang berarti dari kekuatan lawan yang masih mempersiapkan diri dengan
cara konvensional.
Angkatan perang Polandia terdiri
dari 30 Divisi dan 12 Brigade Kavaleri saat itu, sebetulnya tidak tergolong
kecil dibandingkan satuan-satuan Jerman yang digunakan untuk menyerang di-tinjau
dari jumlah sumber daya manusia dikerahkan. Perbedaan tampak jelas pada
kemutahiran mesin-mesin perang yang digunakan, mutu latihan prajurit yang
dikerahkan, dan doktrin yang di-gunakan. Inilah ketiga taktik Jerman yang membuat
Pemerintah Polandia bersama Panglima Ter-tinggi Angkatan Perangnya, terpaksa
meninggalkan tanah-air pada tanggal 18 September 1939, untuk lari menyelamatkan
diri ke Rumania.
Inggris dan Perancis, dua negara
adidaya Eropa ketika itu, segera mengetahui apa yang dilakukan Jerman di
Polandia, dan marah besar. Keduanya langsung mengeluarkan ultimatum kepada Jerman
untuk segera meninggalkan Polandia. Akan tetapi ultimatum Inggris dan Peran-cis,
dua superpower Eropa ketika itu, tidak diindahkan Jerman. Maka pada tanggal 3
September 1939, dua hari setelah Jerman menyerbu ke Polandia, dikumandangkanlah
Perang Dunia kedua di seluruh daratan Eropa.
Serdadu-serdadu Jerman dengan
cepat menduduki negeri-negeri kecil di pesisir Barat Laut Eropa yang menyatakan diri netral. Jerman lalu
masuk ke negeri Belanda pada bulan Mei tahun 1940 yang menyebabkan Ratu
Wilhelmina melarikan diri ke Inggris. Belgia dan Luxemburg lalu mendapat giliran diduduki oleh serdadu-serdadu
Jerman. Perancis kemudian memperkuat per-batasannya dengan Jerman di
garis Maginot, yang menurut pendapatnya tidak akan dapat diterobos musuh.
Jerman selanjutnya melancarkan pemboman atas kota London di Inggris, dari
negara-negara kecil yang netral di daratan Eropa, dan tidak terkecuali kota
Paris di Perancis.
Mengetahui pertahanan Perancis bagian utara yang berbatasan
dengan negara-negara kecil yang netral tidak sekuat yang dilakukannya di garis
Maginot, Jerman dengan cerdik memainkan mus-lihat jitu dengan menyeludupkan
pasukannya ke berbagai negara netral tadi, lalu menyerbu per-tahanan terkuat
Perancis itu dari garis belakang. Dan tak ayal lagi, dengan sangat memalukan
Perancis terpaksa harus bertekuk lutut kepada Jerman dalam perang yang hanya berlangsung
40 hari lamanya.
Perkembangan di Asia
Setelah berhasil menyerbu
Manchuria di Cina tahun 1931 dan mendudukinya sekali, Kaigun (Angkatan Laut)
Jepang pimpinan Vice-Admiral Chuichi Nagumo tanggal 7 Desember 1941 melakukan
serangan mendadak ke pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, dan
melumpuhkan Armada Angkatan Laut Amerika Serikat terbesar di Pasifik, dalam
gugusan kepulauan Hawai, tepatnya di pulau Oahu; akan tetapi tidak mendudukinya.
Ada pengamat Jepang yang mengibaratkan
serangan pasukan negara Matahari Terbit ini bagai membangunkan harimau yang
sedang tidur, begitu terjaga langsung menerkam. Dalam serbuan itu Kaigun me-ngerahkan
6 kapal induk yang mengangkut 360 pesawatterbang, dikawal: 2 kapal perang, 2
penjelajah berat, 11 perusak (destroyer), berikut lainnya. Di Pearl Harbor, pada
hari naas itu tengah bersandar 70 kapal perang Paman Sam termasuk 24 kapal
pendukung; kebanyakan masih tertambat karena saat itu sedang libur. Keesokan
harinya Amerika Serikat mengumumkan perang kepada Jepang, dan Perang Dunia
kedua pun membakar kawasan Asia.
Jepang ketika itu sudah tidak sabar lagi ingin segera
mewujudkan impian yang bernama: Per-Semakmuran Asia Timur Raya (Greater East
Asia Co-Prosperity) yang meliputi: Semenanjung Korea, Cina, Indocina (Vietnam,
Laos, Kamboja), Semenanjung Malaya, Birma (Myanmar), Filipina, dan Hindia
Belanda, dibawah naungan Kekaisaran Hiro Hito dari negara Matahari Terbit yang sangat
perkasa ketika itu.
Pasukan Jepang pimpinan Jenderal Yamashita dengan cepat
menyerbu ke Selatan lewat pulau Hainan di Cina, lalu menerobos tanah jajahan
Perancis di Indocina dan Thailand. Sebagian dari pasukannya bergerak ke Barat
menuju Birma (Myanmar), sebuah tanah jajahan kerajaan Inggris. Yang lain
langsung bergerak ke Selatan naik sepeda menelusuri semenanjung Malaya untuk sampai
di Kuala Lumpur dan Penang, masih dalam tahun yang sama, sebuah tanah jajahan
kerajaan Inggris lainnya. Kapal perang Inggris Prince of Wales dan Repulse yang
bertugas menghadang armada Jepang guna melindungi pulau Singapura dihancurkan
dalam sekejap, menyebabkan pemerintah Inggris yang bertempat di kota Singa itu harus
lari tunggang langgang meninggalkannya.
Serbuan airbah Dai Toa Senso (Perang Asia Timur Raya)
pimpinan Jendral Imamura di Pasifik Barat Daya atau Asia Tenggara saat itu
membuat pasukan gabungan ABDACOM (Australian, British, Dutch dan American
Components) dari SEAC (South East Asia Command) pimpinan Jenderal Sir Archibald
P. Wavell yang ditugaskan melindungi tanah Hindia Belanda hanya mampu bertahan
10 hari, lalu dihancurkanaat pada tanggal 26 Februari 1942, menyebabkan para
Jenderal yang memimpin tiap kesatuan harus melarikan diri ke India dan
Australia. Tujuan Jenderal Imamura jelas, segera menduduki nusantara, dan
memaksa pemerintah Hindia Belanda yang tak berdaya di Batavia, pulau Jawa,
segera menyerah tidak bersyarat, dan menjalankan ladang-ladang minyak termasuk
kilang-kilangnya, untuk menyediakan keperluan mesin perang yang dahaga bahan
bakar dan pelumas.
Jepang masuk ke tanah Hindia Belanda diawali dengan serangan
udara atas Tarakan di Kaliman-tan Utara tanggal 11 Januari 1942, disusul
Menado di Sulawesi Utara tanggal 17 Januari 1942, Balikpapan di Kalimantan
Timur tanggal 22 Januari 1942, Pontianak di Kalimantan Barat tang-gal 1
Februari 1942, Palembang di Sumatera Selatan tanggal 14 Januari 1942, dan
Bali tanggal 26 Januari 1942. Serdadu-serdadu Jepang segera menyerbu ke pulau
Jawa tanggal 28 Februari 1942, dan melakukan pendaratan di tiga tempat,
masing-masing: Banten, Indramayu dan Rembang. Dari Banten mereka bergegas menuju
Batavia dan mematahkan perlawanan serdadu Be-landa yang mempertahankan kota itu
dalam 4 hari. Yang dari Indramayu tentara Jepang dengan cepat menuju lapangan
terbang Kalijati tidak jauh dari Subang, untuk mencegat Gouverneur-Generaal
(Gubernur-Jenderal) Hindia Belanda Tjarda van Starkenberg Stachhouer dan
pimpinan tertinggi KNIL (Koninklijke Nederlads Indie Leger, atau Angkatan Darat
Kerajaan Hindia Belanda), Luitenant-Generaal (Letnan-Jenderal) ter Poorten
melarikan diri ke Australia lewat udara.
Pada tanggal 8 Maret 1942 kedua pimpinan tertinggi
pemerintah Hindia Belanda itu terpaksa menyerah tak-bersyarat setelah memberi
perlawanan kurang dari 9 hari, dan menandatangani perjanjian bertekuk lutut
yang mempermalukan orang Belanda dihadapan anak-anak pribumi dan orang Asia
lainnya. Dengan demikian penjajahan Belanda atas nusantara, diawali kedatangan:
Cornellis de Houtman di Banten tahun 1596, dilanjutkan Jan Pieterszoon Coon
yang mendirikan benteng VOC di Batavia tahun 1619, lalu berakhir dan masuk kedalam
sejarah. Keesokan harinya, Jenderal ter Poorten terpaksa memerintahkan seluruh serdadunya
di tanah Hindia Belanda menghentikan perlawanan dan menyerah kepada Jepang, lalu
membubarkan KNIL. Di pulau Sumatera Generaal-Majoor (Mayor-Jenderal)
Overtrakker dan rekannya Gozenson pun ter-paksa menyerah kepada Jepang tanggal
28 Maret 1942, di perbatasan Aceh dengan Sumatera Utara tidak jauh dari
Kotacane. Kota-kota di pulau Sumatera lalu berjatuhan ke tangan Jepang pada tahun
1942, antara lain: Palembang 14 Februari, Jambi 26 Februari, Medan 12 Maret,
dan Banda Aceh 13 Maret. Masyarakat pribumi kemudian memasuki kehidupan yang baru,
yakni zaman pemerintahan Fascist Jepang; dan zaman penjajahan Hindia Belanda pun
lalu berakhir.
Menyadari Perang Asia Timur Raya
yang dikobarkan Jepang telah merambah masuk ke nusan-tara, Ompu ni Amir dari
Hanopan kemudian mengirim surat kepada ayah bersama untuk pulang bersama
keluarga ke kampung untuk menyelamatkan diri. Meski ayah bersama sejumlah teman
di perantauan telah membuat persiapan untuk tinggal di Talang Djimar melewatkan
perang, akan tetapi akhirnya ayah pada tahun 1942 memutuskan untuk pulang ke
Hanopan untuk berkumpul dengan saudara-saudara lain yang juga kembali ke
kampung dari perantauan.
Zaman Pendudukan Jepang
Hanopan
Dari pangkalan angkatan perang Dai Nippon di Malaysia, pagi hari tanggal 13 Februari 1942, serdadu-serdadu Jepang diperintahkan
kerajaan menyerbu Palembang. Serbuan dilakukan oleh angkatan udara yang telah disiapkan menyerang ibukota keresidenan
Sumatera Selatan, ketika itu masih diduduki Belanda. Lalu Angkatan
Laut Jepang bergerak menuju ke kota yang
terletak di tepi sungai Musi itu. Alasan Jepang menyerbu ke Palembang untuk merebut
kota itu dari tangan Belanda guna mengatasi embargo minyak yang diberlakukan
Amerika Serikat terhadap negerinya. Tidak ada pilihan bagi Jepang untuk mengatasi
embargo kecuali mengambil alih kekuasaan Belanda di Palembang, karena yang akir
ini merupakan ladang minyak pemerintah Belanda terbesar di Indonesia ketika
itu, bahkan minyak yang ditambang Belanda dari ladang-ladang Palembang juga
dijual ke berbagai negara Eropa hingga Amerika Serikat.
Serangan ke Palembang merupakan awal dari kekejaman yang diperlihatkan
Jepang kepada warga Sumatera Selatan akan prilaku sebuah pemerintah Fascist. Penyerangan
terhadap Palembang menjadi bagian penting dari Perang Asia Pasific yang disulut
Jepang untuk menguasai Asia Tenggara sebagai bagian dari Per-Semakmuran
Asia Timur Raya yang dicitacitakan Jepang. Yang akhir ini lalu menduduki kilang-kilang minyak di Pelaju dan
Sungai Gerong. Setelah Palembang jatuh ketangan Jepang, maka
dari kota akhir ini pada tanggal 14 Pebruari 1942, pasukan Jepang menyerbu ke Lubuk Linggau, dan menduduki ibukota silampari
itu tanggal 21 Pebruari tahun
itu juga.
Rakyat dimana-mana di nusantara
dengan mata kepala sendiri menyaksikan bagaimana bangsa Belanda (orang Eropa
dari belahan bumi Barat), yang menjajah nusantara berbilang, terpaksa bertekuk
lutut kepada serdadu-serdadu Dai Nippon (orang Asia dari belahan bumi Timur),
nyaris tidak menunjukkan perlawanan berarti. Orang-orang Belanda yang menyerah
lalu diinternir (di-tawan) Jepang, dijadikan tenaga kasar (koeli) dan pekerja
paksa (rodi) yang diperintah oleh serdadu-serdadu Jepang: dihardik, dipukul,
dicemeti, dan ditendang saat tidak segara menunjukkan kepatuhan. Kepada mereka
yang bersalah langsung digantung, dipancung, dan ditembak oleh re-gu pelaksana
hukuman mati Jepang dihadapan orang banyak.
Saudara tua dari Negeri Matahari
Terbit ini tak ayal lagi memperkenalkan berbagai istilah peme-rintahan yang
tergolong sentralistik di tanha-air ketika itu. Kata Residen diubah menjadi:
Cokan, Bupati diganti menjadi: Kenco, Wedana ditukar jadi: Gunco, Kepala Kampung
menjadi: Kuco. Dalam jajaran angkatan perang, Jepang memperkenalkan: Rikugun
untuk Angkatan Darat, ketika itu dan ditugaskan menjalankan pemerintahan di
pulau-pulau Jawa dan Madura. Lalu Kaigun untuk Angkatan Laut, ditugaskan menjalankan
pemerintahan di pulau-pulau lainnya termasuk pulau Sumatera. Polisi Militer dinamakan
Jepang: Kem Pei Tai. Selain dari itu ada lagi: Sendenbu yang artinya Badan
Penerangan Jepang. Seinendan digunakan untuk menyebut orga-nisasi pemuda
peserta latihan militer Kyoren. Fuzinkai istilah nama untuk para aktifis wanita
anak-anak negeri yang membantu Bala Tentara Jepang. Keibodan adalah badan yang
membantu kepolisian memata-matai anak-anak pribumi. Heiho ialah pemuda-pemuda anak
bangsa yang direkrut untuk membantu tentara Jepang dalam medan perang Asia
Timur Raya. Di pulau Jawa badan ini disebut: Kaigun-Heho sedangkan di pulau
Sumatera bernama: Rikugun-Heho. Ada lagi yang disebut: romusya. Yang akhir ini
ialah tenaga-tenaga kerja anak bangsa yang dihimpun Romukyoku (Jawatan Tenaga Kerja Jepang) untuk
beragam keperluan, termasuk yang ikut berperang yang tidak sedikit jumlahnya.
Hengkangnya pemerintahan Hindia
Belanda dari bumi pertiwi, telah lama menjadi idaman anak-anak negeri. Dalam
pandangan masyarakat di tanah-air, sikap dan prilaku orang Belanda yang datang
dari Eropa tergolong sangat angkuh; kehidupan mereka pun jauh dari rakyat kebanyakan
dibandingkan orang-orang asing
lain, seperti: Arab, Cina, Keling (India), yang juga termasuk pendatang ke
nusantara. Keserakahan terhadap penguasaan hasil: perkebunan, perdagangan,
pertambangan sampai industri yang dikuasai pemerintah Hindia Belanda yang
kolonial dalam rentang waktu yang panjang, mereka perlihatkan dihadapan
anak-anak negeri, nyaris tidak ambil bagian berarti guna memperbaiki nasib rakyat banyak
di tanah jajahan. Orang-orang Belanda amat menghormati Jenderal van Heutz
sebagai orang yang angat berjasa kepada Kerajaan Be-landa di Eropa, karena
dengan kecerdasan dan kerja kerasnya telah menaklukkan begitu banyak kerajaan di
nusantara besar dan kecil, menundukkan begitu banyak Raja di tanah-air untuk
men-dirikan Oost Nederlands Indie (Hindia Belanda Timur) yang luas dari
Sabang hingga Merauke. Akan tetapi tanah jajahan yang luas itu tidak membantu
memperbaiki kehidupan anak-anak negeri di tanah kelahirannya.
Dalam kurun waktu ratusan tahun lamanya, anak-anak negeri
telah melakukan rodi (kerja paksa) yang menguras tenaga nyaris tanpa
berimbalan, mengabdi kepada pemerintah Hindia Belanda yang kolonial membangun
jalan-raya dan jembatan diperintahkan oleh Dandels. Mereka juga menjadi koeli
di beragam perkebunan yang diusahakan pemerintah Hindia Belanda di tanah-air
dengan bayaran segobang (dua setengah sen uang Belanda ketika itu) sehari, lalu
ditransmigrasikan ke berbagai tempat di luar pulau Jawa. Tidak sedikit dari
mereka yang lalu dieksport ke luar negeri untuk dijadikan pekerja rodi di sejumlah
perkebunan seperti: Suriname di Amerika Selatan, dan New Caledonia di Timur
Australia, untuk menjadi koeli perkebunan milik kerajaan Belanda dan asing
lainnya. Dapat dimengerti apabila selama masa penjajahan Belanda yang begitu panjang
muncul protes dimana-mana, pembangkangan, penolakan, hingga dengan pem-berontakan
terhadap pemerintah Hindia Belanda yang berkuasa ketika itu.
Hingga dengan kedatangan Jepang di nusantara, semua
kebijakan yang diambil Kerajaan Be-landa di Eropa terhadap tanah jajahan Hindia
Belanda Timur, menyebabkan yang disebut akhir ini menjadi: pemerintahan
kolonial terlemah didunia, jumlah rakyat buta-huruf terbanyak sejagat,
orang-orang miskin terhina di muka bumi, dan militer terlemah di Asia. Meski
telah berlaku se-demikian buruk kepada anak-anak negeri di tanah-airnya,
orang-orang Belanda masih menimpali anak bangsa ini dengan ucapan Helfferich: “Een
Natie van Koelies, en een Koelie onder de Na-ties” (Sebuah bangsa Kuli, dan
Kuli dibawah Bangsa-bangsa). Luka lahir bathin yang terpen-dam ditinggalkan
pemerintah Hindia Belanda yang kolonial kepada anak-anak negeri amat da-lam dan
menyakitkan, sehingga tidak cukup banyak kata yang adad dalam
perbendaharaan bahasa untuk
mengungkapkan seluruhnya. Demikian pahit kegetiran hidup yang dirasakan
anak-anak bangsa di tanah kelahirannya sendiri pada ketika itu.
Jepang rupanya faham sekali akan duka lahir dan bathin yang
diderita anak-anak negeri di tanah Hindia Belanda ketika itu, dan dengan
cerdik memanfaatkannya. Karena itu Jepang dengan cepat menawarkan janji
“kemerdekaan” kepada anak-anak bangsa di nusantara dalam satu paket dengan
kemakmuran untuk seluruh Asia, sebagaimana yang dikampanyekan dalam “Greater
East Asia Co-Prosperity”, lebih dikenal dengan gerakan 3A: “Nippon tjahaja Asia, Nippon pelindung Asia, Nippon pemimpin Asia”.
Tidak disangkal lagi anak-anak negeri dimana-mana di seluruh
nusantara bersuka cita dan me-nyambut kedatangan serdadu-serdadu Jepang yang
datang dari negeri matahari terbit, apalagi diiringi sikap ramah tamah dan
penuh hormat yang dipertontonkan saudara tua pendatang baru itu. Pada tahap
ini, keinginan rakyat di nusantara yang diwakili para pemimpin mereka masih sejalan
dengan keinginan tentara Jepang, yaitu secepatnya mengenyahkan pemerintah
Hindia Belanda yang kolonial dari bumi pertiwi.
Akan tetapi setelah pemerintah Hindia Belanda yang kolonial
tumbang, rakyat menuntut janji kemerdekaan kepada Jepang. Sekelompok anak
bangsa bahkan menyodorkan calon presiden pribumi beserta para menteri
kabinetnya, akan tetapi saudara tua itu terpaksa mengulur waktu. Baru setelah
anak-anak negeri menyaksikan dengan mata kepala sendiri orang-orang Jepang
menduduki berbagai jabatan yang ditinggalkan pemerintah Hindia Belanda,
barulah mereka sadar a-kan maksud kedatangan orang-orang yang mengaku diri
sebagai saudara tua itu. Kini, keinginan rakyat dan kepentingan Jepang sudah
berseberangan, bahkan akan menuju benturan kepentingan. Anak-anak bangsa lalu
membayangkan kedatangan penjajah baru ke nusantara, kini dari Asia Timur yang mengaku diri bernama saudara tua.
Apa yang diperlukan Jepang segera ketika itu ialah tenaga
kerja, ratusan bahkan ribuan anak bangsa untuk berkingrohoshi (berkerja bhakti)
menjadi heiho membantu prajurit Jepang dalam perang Dai Toa Senso menghadapi serbuan
pasukan sekutu. Demikian juga romusya untuk mem-bangun benteng-benteng
pertahanan, menyiapkan lapangan terbang, membongkar/pasang rel ke-reta api
seperti di Tratak dan Petain 170 km di Barat Daya Pekanbaru, membangun kubu per-tahanan,
melakukan penggalian tanggul, membuat tempat perlindungan bagi serdadu Jepang,
menggali terowongan berikut lorong dan gua persembunyian serdau-serdadu Jepang,
dan masih banyak lagi. Tenaga kerja diperlukan tidak hanya yang untuk bertugas
di tanah-air, tetapi juga untuk dieksport ke negeri lain seperti yang
dilakukan pemerintah Hindia Belanda yang kolonial silam, tetapi kini oleh
pemerintah Fascist Jepang untuk memenangkan perang Dai Toa Senso.
Jepang tidak disangkal lagi membutuhkan bahan pangan:
beras, sayur, daging, buah, yang di-kumpulkan dari petani, peternak, dan
dibayar uang kertas Jepang. Pemerintah Fascist Jepang ini juga membutuhkan
anak-anak negeri yang dijadikan polisi untuk megamankan masyarakat di ga-ris
belakang. Kini serdadu-serdadu Jepang telah menanggalkan semua keramah-tamahan
se-belumnya, dan menukar dengan sikap kasar, keras, dan kejam menghadapi anak
bangsa. Ser-dadu-serdadu Jepang kemudian memperlakukan anak-anak bangsa dengan sewenang-wenang,
tindakan kasar, bengis dan kejaman, dalam menuntut kepatuhan mengikuti perintah.
Jepang juga memerlukan bantuan aktif penduduk mempertahankan nusantara dari serbuan
pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat.
Karena serdadu-serdadu Dai-Nippon telah menunjukkan
keperkasaan mengusir pemerintah Hindia Belanda dari bumi pertiwi dengan mudah;
memperhatikan kecepatan perubahan prilaku orang-orang Jepang mengambil alih berbagai
jabatan yang ditinggalkan pemerintah Hindia Belanda, anak-anak negeri denga
para pimpinannya di tanah-air saat itu terpaksa mengalah. Me-reka sadar, bahwa
kedatangan Jepang ke tanah-air untuk merampas tanah jajahan Hindia Belan-da,
setelah penguasa akhir ini berhasil ditaklukkan. Maka untuk menghindarkan
pertumpahan darah yang sia-sia melawan pasukan pendudukan Jepang yang perkasa,
kasar, bengis, kejam, dan tidak beradab ketika itu, anak-anak bangsa dengan
para pemimpinnya terpaksa mengambil langkah koopertif dengan mengikuti kehendak
saudara tua.
Serbuan tentara Jepang yang telah meluluhlantakkan pasukan
SEAC dan pertahanan tanah Hin-dia Belanda, kemudian diarahkan ke Australia.
Dengan terlebih dahulu menduduki Rabaul di gugusan kepulauan Bismarck, Jepang
melangkah ke semenanjung di Utara benua kanguru, dan berupaya menggunting jalur
pengiriman senjata yang datang dari Amerika Serikat. Akan tetapi malang, dalam
pertempuran di Laut Coral (Laut Karang) pada tanggal 4 Mei 1942, angkatan laut
Jepang pimpinan Jenderal Hyakutake menderita kekalahan, terpaksa mundur disusul
jatuhnya Guadalkanal tanggal 6 Nopember tahun yang sama. Sebelumnya pada bulan
Juni tahun itu juga, empat buah kapal induk yang sarat pesawat tempur
ditenggelamkan armada Amerika Serikat ti-dak jauh dari Midway.
Kendati Jepang terus berusaha memacu serangannya, namun
setelah Jenderal Hyakutake diganti-kan Jenderal Imamura, sampai dengan penghujung
tahun 1942 pasukan Jepang yang menyerbu ke bagian Utara Australia itu terus
terpukul mundur. Duet Jenderal Nimitz dari Pearl Harbor dengan Jenderal
McArthur yang ditarik ke Australia dari Filipina, melakukan gerakan leap frog
(lompat katak) dari kepulauan-kepulauan: Marshall, Gilbert, Mariana, dan
Carolina, lalu memak-sa serdadu-serdadu Jepang melakukan strategi mundur sambil
bertahan cara bergantian. Dalam periode tahun 1942 hingga 1943, Jenderal
McArthur terus saja memburu pasukan Jepang yang terdesak mundur ke Papua, dari
sana ke Morotai, lalu kepulauan Filipina, pulau Taiwan, kepula-uan Okinawa,
hingga menghampiri Jepang di tanah-airnya. Pukulan besar yang diderita Jepang
pada saat itu ialah tewasnya laksamana Yamamoto tanggal 1 Maret 1943.
Dalam gerakan mundur, diawali dari Filipina Jepang
memperlihatkan perlawanan sengit, dan mengerahkan squadron pesawat tempur
Kamikaze (angin utusan Tuhan) dikemudikan para pe-nerbang berani mati. Mereka
menyerang semua armada sekutu yang bergerak dalam formasi menuju ke perairan
Jepang, menyebabkan banyak yang disebut akhir ini terbakar dan tenggelam.
Gerakan gunting yang dilakukan Jenderal McArthur sejak dari Australia membuat
pasukan Je-pang yang berada di pulau-pulau: Sumatera, Jawa, dan Kalimantan terkucil
dari induk pasukan-nya di kawasan pasifik Barat.
Banyak adegan perang yang mempertontonkan kemutakhiran persenjataan
yang dimiliki Amerika Serikat dan sekutunya disatu fihak, Jerman dan Jepang pada
fihak lainnya, yang telah diangkat ke layar perak untuk meramaikan
bioskop-bioskop di semua muka bumi, untuk memu-askan dahaga rasa ingin tahu
orang banyak seluruh dunia akan malapetaka dunia buatan manusia terbesar abad
ke-20, yang gemanya masih terus bergaung memasuki abad-abad selanjutnya di
berbagai bidang: politik, ekonomi, sosial, budaya, strategi militer, dan
lainnya. Dan yang tak ka-lah menyita perhatian umat manusia di dunia dalam
malapetaka itu ialah kepahlawanan yang ditunjukkan para perajurit kedua kubu
yang berseteru di berbagai medan laga, Eropa dan Asia.
Keberhasilan pasukan Amerika Serikat di front Pasifik Barat,
disusul keberhasilan tentara Inggris mengusir serdadu-serdadu Jepang
meninggalkan Birma (Myanmar) di front Asia Tenggara, lalu memburu semuanya menuju
ke semenanjung Malaya. Pasukan Australia kemudian mulai menduduki kepulauan nusantara
bagian Timur, menyebabkan serdadu-serdadu Jepang yang terpe-rangkap di tiga
pulau disebutkan sebelumnya kian terjepit. Hal ini membuat nasib anak-anak
negeri yang berada di ketiga pulau itu semakin menderita, karena
serdadu-serdadu ini semakin menggantungkan hidup mereka dari pemerasan
milik masyarakat mulai hasil pertanian hingga harta kekayaan lainnya. Untuk mencukupi
berbagai keperluan di pulau-pulau: Sumatera, Jawa dan Kalimantan: pangan,
tenaga kerja, dan lain sebagainya, serdadu-serdadu Jepang mengandal-kan senjata
ditangan, sikap kasar, dan kejam, agar anak-anak negeri menurut perintah, lalu
me-nyerahkan saja apa yang diinginkan saudara tua dengan cepat.
Dengan cara demikian Jepang dapat merekrut ratusan ribu
pemuda dari kota hingga desa yang didudukinya, untuk menjadi heiho dan romusha
yang dikirim ke Singapura, Malaya, Siam (Thailand), Birma (Myanmar), Nikobar,
dan Andaman, guna menahan serbuan sekutu. Banyak dari mereka yang terbunuh
diperlakukan sebagai umpan peluru, kurus kering kurang pangan, terlantar menjadi
gelandangan di rantau orang, tenggelam dilaut, dan hilang tak tentu
rimbanya. Banyak para romusya yang tidak diketahui lagi lagi dimana
keberadaannya, karena samasekali tidak terdaftar. Ada pula para romusya
penggali persembunyian Jepang yang dibunuh begitu saja setelah menyelesaikan
pekerjaan untuk merahasiakan lokasi. Tidak sedikit jumlah keluarga anak
negeri yang menanyakan nasib sanak saudara yang telah direkrut Jepang, akan
tetapi yang akhir ini tidak mengindahkannya. Banyak kampung dan desa lalu
kekurangan tenaga kerja untuk mengolah lahan pertanian penghasil pangan yang
menghidupi rakyat di berbagai tempat di tanah-air ketika itu.
Memasuki tahap akhir penjajahan Jepang yang setahun jagung lamanya,
serdadu-serdadu Jepang yang kehabisan bekal, karena tidak lagi mendapat
logistik dari induk pasukannya. Maka untuk bertahan hidup, mereka lalu memburu
pangan rakyat: beras, jagung, ketela, dan lain sebagainya. Dengan peluru
ditangan dan sikap kasar, serdadu-serdadu Jepang mengumpulkan semua hasil per--tanian
rakyat lalu menimbunnya. Kepada mereka yang setia, Jepang memerintahkan
semu-anya berbaris untuk memperoleh jatah pangan. Rakyat di berbagai tempat di
pulau-pulau: Suma-tera, Jawa dan Kalimantan, lalu menderita kekurangan
pangan. Mereka yang kelaparan berusaha mencari makanan di hutan dari tanaman
liar yang diketahui dapat dimakan peninggalan generasi sebelumnya. Keracunan pangan
pun terdengar dimana-mana ketika itu, karena banyak dari mere-ka yang tidak lagi
mengetahui bagaimana menyiapkan untuk dimakan.
Serdadu-serdadu Jepang yang terkepung di tiga pulau memperlakukan
anak-anak negeri tidak alang kepalang kasar, kejam, yang menyakitkan. Kepada
mereka yang tidak cepat memberi hor-mat ketika bertemu langsung ditempeleng.
Mereka yang tidak sudi, atau ragu, mengikuti perintah ditendang dan dipukul
gagang senapan. Yang diketahui bersalah dicemeti didepan orang banyak di
lapangan terbuka. Musuh dan penghianat yang tertangkap serdadu Jepang dipancung
lang-sung, atau ditembak mati. Dalam zaman Jepang yang Fascist, tidak ada
pengadilan untuk mem-buktikan kesalahan atas perkara yang dituduhkan terhada
anak-anak negeri, apalagi menegakkan kebenaran dan menghormatinya.
Dengan memperlihatkan kekasaran dan kekejaman, Jepang menharap
anak-anak negeri akan pa-tuh pada perintah tanpa perlu berfikir. Tujuan
Jepang jelas, menciptakan rasa takut dalam ma-syarakat untuk menghadirkan
ketertiban dan ketenteraman dalam masyarakat di garis belakang selama
masa pendudukannya. Samasekali berbeda dengan apa yang dilakukan pemerintah Hin-dia
Belanda silam untuk mendapatkan hal yang sama yang diketahui anak-anak negeri
selama ini. Di lain fihak, bahasa kasar dan perbuatan kejaman yang diperlihatkan
Fascist Jepang ber-dampak buruk terhadap anak-anak bangsa karena menyebabkan trauma
kejiwaan yang berat. Anak-anak negeri tidak dapat menemukan dalam akal-budi dan
penalaran apa yang telah me-nyebabkan kehidupan seburuk itu menghampiri hidup
di alam fana ini; apakah kiranya kesalahan atau dosa yang pernah mereka kerjakan
atau leluhur lakukan silam?
Meski serdadu-serdadu pendudukan Jepang telah
memperlihatkan kekasaran dan kekejaman kepada masyarakat berulang kali, tidak
berarti anak-anak pribumi urung samasekali memper-lihatkan perlawanan. Rakyat
Singaparna di Jawa Barat, pimpinan K.H. Zaenal Mustafa menolak seikeirei
(menyembah) kepada Tenno Heika yang ada di Tokyo, Jepang; karena menyalahi a-jaran
“Darul Islam” yang diyakini rakyat. Sang Kiayi mengatakan sembahyang hanya meng-hadap
Ka’bah yang terdapat di Mekah, Saudi Arabia, bukan sebagaimana yang diperintahkan
para perajurit Jepang. Pemberontakan Indramayu lalu meletus dan menimbulkan
korban dalam masyarakat ketika itu. Pemberontakan itu juga dipicu oleh kebencian
rakyat kepada serdadu-serdadu Jepang yang telah melakukan pemerasan hasil bumi
dan kekayaan rakyat yang telah melampaui batas.
Kehidupan di tanah-air dari hari ke hari dirasakan rakyat
kian menghimpit pada penghujung pendudukan Jepang, terlebih oleh adanya blokade
pasukan sekutu. Beragam bahan makanan dan pakaian yang di zaman Hindia Belanda mudah
diperoleh melalui import dari luar negeri, di za-man pendudukan Jepang lalu hilang
dari pasaran. Kalau pun ada, tidak mudah mendapatkan-nya, tidak terkecuali
obat-obatan. Yang pertama menderita ialah anak-anak dalam pengungsian yang memerlukan
pangan berbahan dasar susu. Kaum ibu terpaksa mengusahakan makanan tamba-han
untuk anak-anak di pengungsian guna memenuhi kecukupan gizi.
Begitu juga dengan pakaian yang tidak dapat lagi dibeli
dipasar, sehingga banyak warga yang masih mengenakan pakaian yang dibeli pada
zaman Hindia Belanda silam, dikenakan hingga buruk di badan. Manakala cabik
dimakan usia, tambal sulam bukan lagi halangan. Banyak pakaian yang dikenakan
orang-orang yang berkeliaran di jalan-raya telah bertambal sulam dimana-mana.
Berbagai warna potongan kain pun dijahitkan orang dengan tangan menghiasi baju
atau celana dari luar. Orang-orang berpakaian compang-camping tampak
berkeliaran menjadi pe-mandangan sehari-hari di zaman pendudukan Jepang. Ada
sementara anak negeri yang telah mengenakan pakaian dari goni (karung), atau
dari terpal yang dikupas dari selang air di kota-kota; sedangkan di
kampung-kampung rakyat dikhabarkan mengenakan pakaian terbuat dari kulit kayu
dan bagor (karet giling tipis) sebagai ganti kain pembalut badan.
Yang juga lenyap dari pasaran dalam pendudukan Jepang
mainan anak-anak yang di zaman Hindia Belanda banyak diperdagangkan di pasar.
Para pengungsi perlu membantu anak-anak me-reka menciptakan peralatan bermain untuk
merangsang berfikir dan berkreasi dari imajinasi ma-sing-masing. Banyak
anak-anak para pengungsi yang tidak segera dapat berbaur dengan anak-anak setempat
di kampung-kampung tempat berdiam. Alat-alat bemain anak-anak dibuat dari bahan
apa saja yang dapat dijumpai di tempat pengungsian. Dengan alat bermain
seadanya di zaman Jepang, orang tua para pengungsi berusaha mencerdaskan buah
hati mereka: putera dan puteri, sekaligus mengantarkan anak-anak ini
bermasyarakat dengan anak-anak lain di lingku-ngan kehidupan yang baru. Kaum
ibu pun tidak ketinggalan menyediakan beragam alat permai-nan anak perempuan
agar dapat dengan sebayanya di tempat pengungsian.
Dengan semakin terpukulnya serdadu-serdadu Dai Nippon dalam
perang Dai Toa Senso, pada maka pada tanggal 7 September 1944, Perdana Menteri
Jepang saat itu: Koisho menyampaikan dihadapan Parlemen di negerinya, bahwa
pemerintah Jepang akan dengan resmi memberikan ke-merdekaan kepada bangsa
Indonesia. Kemudian janji itu diulangi lagi oleh Jepang dengan pe-ngumuman
pemerintah yang dikeluarkan tanggal 29 April 1945.
Pladjoe
Setelah pulang ke kampung dan berkumpul
bersama saudara yang kembali dari perantauan setahun lamanya untuk menyelamatkan
diri dari amukan Perang Asia Timur Raya yang dikobarkan Jepang, berlama-lama tinggal
di kampung tanpa pekerjaan dan pendapatan dirasakan ayah semakin tidak tertahankan.
Setelah menyadari keadaan sudah cukup aman, dan Jepang tampak telah menguasai
semuanya, pada tahun 1943 ayah kembali merantau ke Sumatera Selatan menuju Pladjoe,
untuk mengetahui keadaan, dan mencari keterangan apakah pekerjaan yang
ditinggalkan di De Bataafsche Petroleum Maatschaappij milik Belanda saat
Japang masuk, masih akan diteruskan?
Mangunjaja
Dengan datangnya Jepang, ternyata
pekerjaan pencarian sumur-sumur baru di ladang minyak Talang Jimar tidak diteruskan, dan ayah diminta menuju ke ladang
minyak Mangunjaya. Di ladang minyak akhir ini, ayah bergabung dengan Asano-Butai
dan bertugas di bidang personalia perusa-haan minyak milik Jepang. Ternyata perusahaan
minyak N.V. De Bataafsche Petroleum Maat-schaappij Mangunjaya, Musi Banyu Asin,
yang ditinggal Belanda telah diambil alih pemerintah Fascist Jepang.
Ladang Minyak Mangunjaya Kabupaten Musi Banyu Asin tahun 1945
Keterangan Gambar
1. Kantor 9. Perumahan
Pegawai Minyak 17. Rumah Kembar
2. Poliklinik 10. Perumahan
Bujangan 18. Tanah
Lapang
3. Pompa Air 11. Bengkel dan
Gudang 19. Kampung
4. Puast Listrik 12. Pelabuhan Kapal Sungai 20. Arah Babat
5. Sekolah Rakyat 13. Tambatan Perahu 21. Arah Muara
Punjung
6. Lapangan Bola 14. Perladangan 22. Arah
Kilang Minyak
7. Menara Bor 15. Persawahan 23.
Rawa
8. Kebun Karet 16. a.,b.,c. Rumah Ayah 24. Sungai Musi
Dari Mangunjaya ayah mengirim surat
ke kampung, untuk mengirim khabar kepada ibu, Ompung perempuan, dan kerabat
lainnya yang mengabar keadaan ayah di rantau. Tidak lama sepenerima surat,
ibu lalu menyusul ayah ke Mangunjaya. Dari Sipirok, ibu mendapat Surat
Keterangan no.744/8 yang mencantumkan nama seluruh anaknya:
. 1. Muhammad Syarif Harahap
2. Abdul Hamid Harahap
3. Muhammad Anwar Harahap
4. Muhammad Arifin Harahap
5. Muhammad Rusli Harahap
6. Fatimah Marsari Harahap;
dikeluarkan Patuan Soangkupon
selaku Kepala Kuria di Sipirok, yang diperlukan sebagai “Surat Jalan” saat itu.
Dua orang anak ibu, yakni: Muhammad Anwar Harahap dan Muhammad Arifin Harahap
ditinggal di Padang Sidempuan pada Durain Pulungan, di jalan Rambutan no. ..
berpo-tongan dengan jalan Lubuk Raya, Tano Lapang, untuk mengikuti Sekolah
Rendah Goeberne-men. Lainnya meneruskan perjalanan bersama ibu sampai ke Mangunjaya.
Setiba di Mangunjaya keluarga ayah berdiam di rumah 16a, kemudian pindah ke
rumah sewa lebih besar16b.
Mangunjaya sebuah desa di daerah
Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan, yang telah berubah menjadi sebuah ladang
minyak. Desa minyak ini terleak di jalan-raya yang menghubungkan Palembang
dengan Lubuk Linggau. Selain dari lewat jalan darat desa minyak ini juga dapat
diraih lewat angkutan air sungai Musi dari Palembang setelah melewati Sekayu
dan Babat. Ma-ngunjaya ialah ladang minyak sebenarnya, karena di desa ini banyak
terdapat sumur minyak, dari mana minyak mentah (crude oil) dibawa keluar dari
dalam perut bumi. Pompa minyak berte-baran di ladang desa, dan pompa-pompanya
masih ditarik kabel baja panjang dari pusat-pusat penghelaan dijalankan mesin
diesel. Kabel baja ditebar bercabang, panjangnya mencapai ratusan meter dari
pusat penarikan, dibuat tergantung pada ayunan kayu berjarak dari tanah tersusun
dalam barisan. Pada zaman Belanda minyak mentah dihasilkan dikirim lewat pipa
minyak ke Plaju dan Sungai Gerong dijadikan BBM, pelumas, dan lainnya. Akan tetapi
dalam zaman Jepang ada yang minyak mentah yang diolah di Mangunjaya menjadi BBM
kebutuhan mesin perang.
Sebagai sebuah ladang minyak,
Mangunjaya memiliki kantor administrasi untuk melola ladang. Terdapat juga
bengkel untuk beragam perawatan mekanik yang diperlukan, alat-alat berat pe-nunjang
pekerjaan pemeliharaan ladang. Di ladang ini kebanyakan orang bepergian dengan berjalan
kaki, hanya sedikit yang menggunakan kereta angin saat itu. Banyak warga naik perahu
dayung di sungai Musi untuk bepergian ke kampung berdekatan, seperti: Babat,
Muara Punjung, Sugiwaras, Brugo, Air Itam, Ngulak, Toman, dan lainnya. Hanya
ladang Mangunjaya yang memiliki mobil penumpang yang melintas di jalan-raya,
begitu juga kapal tunda (tug boat) di su-ngai Musi penghela tongkang yang
mengangkut muatan berat keperluan ladang. Sebagai pega-wai personalia ayah
kerap mengunjungi berbagai lokasi yang ada dalam administrasi ladang Ma-ngunjaya,
antara lain: Keban, dan lainnya.
Selain dari itu terdapat kapal-kapal
roda lambung dijalankan mesin-uap milik para pedagang yang berkeliaran di
sungai Musi dinakhodai seorang Juragan hilir mudik menyinggahi pela-buhan-pelabuah
sungai sepanjang sungai Musi. Kapal-kapal ini menjadi “toko terapung” yang memperdagangkan
barang-barang keperluan hidup sepanjang sungai Musi yang dapat dising-gahi.
Kapal roda lambung digunakan karena dasar sungai Musi yang dangkal terutama di
musim panas, sehingga dasarya muncul ke permukaan. Para nakhoda harus menghindar
darinya bila tidak ingin kandas.
Sumber: Google.
Kapal Roda Lambung.
Dalam zaman Jepang, di Mangunjaya
banyak ditemukan serdadu Nippon dalam perawatan oleh terserang malaria. Mereka
yang sakit dirawat di Rumah Bujangan yang tidak jauh dari klinik. Banyak dari
mereka yang dibaringkan dengan kepala didinginkan balok-balok es tergantung di
atas kepala masing-masing untuk menurunkan temperatur.
Dengan Amerika Serikat terlibat dalam
Perang Dunia ke-II di Eropa yang mendukung: Inggris, Perancis, dan lainnya di front
Barat, demikian juga Uni-Sovyet (Rusia) di front Timur yang me-nyerang, Nazi Jerman
pimpinan Adolf Hitler terjepit di medan laga, dan membuat negeri akhir ini dapat
segera ditaklukkan; dan Perang Dunia ke-II di Eropa pun berakhir.
Kemenangan sekutu dalam Perang Dunia ke-II, lalu dirayakan
masyarakat tanggal 8 Mei 1945 di Eropa. Perang dahsyat yang telah meluluhlantakkan
Jerman berikut aliansinya yang jaya oleh serbuan pasukan sekutu yang lebih
perkasa ketika itu, membuat pemerintah Fascist Jerman pim-pinan Adolf Hitler
dengan Partai Nazinya bertekuk lutut tidak bersyarat, lalu menandatangani
perjanjian Potsdam (kota dekat Berlin) yang menyakitkan. Dalam perjanjian tersebut
dikatakan, negeri Jerman harus dibagi menjadi
empat sektor, sesuai dengan jumlah pasukan sekutu yang menaklukkannya, masing-masing: Amerika
Serikat, Inggris, Perancis, dan Uni-Sovyet.
Penggabungan ketiga sektor negeri Jerman yang diduduki:
Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis, yang terletak di bagian Barat negeri
itu, melahirkan Jerman Barat dengan ibukotanya Bonn; sedangkan sektor keempat
yang berada di bagian Timur Jerman dan dikuasai Uni-Sovyet, oleh perbedaan
ideologi negara penakluk, terpaksa memisahkan diri dan membentuk apa yang ke-mudian
dinamakan Jerman Timur dengan ibukotanya Berlin. Akan halnya kota Berlin, bekas
ibukota Nazi Jerman yang tersohor itu, dalam kesepakatan Potsdam juga perlu dibagi
kedalam empat sektor. Penggabungan sektor-sektor Berlin yang diduduki: Amerika
Serikat, Inggris dan Perancis yang terdapat di sebelah Barat kota itu
melahirkan Berlin Barat; sedangkan sektor Timur yang berada dibawah kekuasaan
Uni-Sovyet, juga memisahkan diri oleh perbedaan ideologi negara lalu membentuk
Berlin Timur, dan kemuian menjadi ibu-kota Jerman Timur.
Pada awalnya kedua komunitas bangsa Jerman yang berdiam di
Berlin, yakni warga Berlin dibawah pemerintah gabungan Amerika Serikat,
Inggris, dan Perancis, begitu juga warga Berlin yang berada dibawah kekuasaan
Uni-Sovyet; atau mereka yang bermukim di blok Barat (Ame-rika Serikat, Inggris
dan Perancis), maupun yang bermukim di blok Timur (Uni-Sovyet) sejalan
perjanjian Potsdam, hanya dipisahkan sebuah garis yang hanya terdapat dalam
peta. Akan tetapi dengan semakin banyak penduduk yang bermukim Berlin Timur
yang melarikan diri meninggal-kan bagian kota itu dan bergabung dengan penduduk
Berlin Barat, oleh pemerintah Jerman Timur atas persetujuan Uni-Sovyet, didirikanlah
"dinding beton" di lapangan pada garis yang memisahkan kedua komunitas
kota itu. Dinding beton ini lalu dikenal dengan: “Tembok Berlin” atau
"Berlin Wall". Tembok Berlin dibangun pada zaman pemerintahan Perdana
Menteri Uni So-vyet Nikita Khrushchev berhaluan Sosialis-Komunis sedang berkuasa
di Kremlin, di kantor pemerintah Uni-Sovyet, di pusat kota Moskow.
Meski Perang Dunia ke-II telah berakhir di Eropa, akan
tetapi hal itu samasekali belum berlaku di Asia, meski Jepang telah kehilangan
aliansi perangnya di belahan bumi Barat. Kini Jepang ha-rus bertempur sendirian
untuk mewujudkan gagasan: “Per-Semakmuran Asia Timur Raya” de-ngan kemampuan
militer yang ada berhadapan langsung dengan Amerika Serikat dengan para sekutu
perangnya dari Eropa, khususnya Inggris, dan Belanda, yang mempunyai
kepentingan di kawasan Asia Tenggara, karena merasa memiliki tanah jajahan yang
luas lagi kaya akan berbagai sumber alam, dan belum lama direbut oleh Fascist
Jepang. Seteru Jepang lain di Asia Pasifik ke-tika itu ialah Cina Nasionalis
pimpinan Jenderal Chiang Kai Shek yang bukan komunis, dan Australia.
Dengan semakin dekat Jenderal McArthur bersama armada
perangnya menghampiri perairan ne-geri Sakura, Jepang menunjukkan perlawanan
yang beragam di laut dan udara. Di laut, selain kapal-kapal perang angkatan
lautnya, Jepang mengirim ribuan kapal motor bunuh diri pengangkut bom: mulai
kapal selam torpedo mini dikendalikan perajurit jibaku (berani mati), perahu
cepat pemburu kapal perang, dan lainnya; semunya ditebar ke lautan disekeliling
negeri Sakura. Tujuannya, untuk menenggelamkan kapal-kapal armada sekutu yang
berani mendekat. Pasukan sekutu pimpinan Amerika Serikat benar-benar menghadapi
rintangan besar melawan para perajurit jibaku yang besar jumlahnya dan beragam pula
bentuknya, karena dapat mengka-ramkan tidak sedikit kapal perang, sehingga
terpaksa harus berpaling kepada keunggulan tekno-ogi, untuk membuat Jepang cepat
bertekuk lutut. Pilihan kemudian jatuh pada penggunaan senjata nuklir atau bom
atom yang dijuluki: “Little Boy”.
Dua kota industri Jepang dipilih menjadi sasaran Little
Boy, yakni: Hiroshima di pulau Honshu, dan Nagasaki di pulau Kyushu. Bom pertama
dijatuhkan di Hiroshima tanggal 6 Agustus 1945, dilepaskan dari lambung pembom
B-29 “Enola Gay” yang dikemudikan Kapten Penerbang War-field Paul Tibbets Jr, dan
merenggut 120.000 jiwa sekejap, disusul 80.000 orang yang mati perlahan akibat
penyinaran radio-aktif. Melihat kengerian yang ditimbulkan bom pertama meng-hantam
Jepang di tanah-airnya, kabinet Jepang langsung bersidang hari itu juga. Tiga
hari kemu-dian, bom kedua dijatuhkan pula di Nagasaki tanggal 9 Agustus 1945 yang
merenggut 80.000 jiwa seketika. Tak pelak lagi, negara Matahari Terbit itu langsung
mengibarkan bendera putih tanda menyerah, sekaligus menyatakan bersedia
mengikuti Jerman menerima perjajian Potsdam yang tak-bersyarat dan memilukan
kaum samurai, lalu mempermalukan semuanya.
Baru pada tanggal 8 Agustus 1945, Uni-Sovyet memaklumkan
perang kepada Jepang dengan mengerahkan angkatan perang menerobos masuk
Manchuria, tanah jajahan Jepang di Tiongkok. Negara Beruang Merah itu melibatkan
diri dalam Perang Pasifik setelah Kerajaan Jepang me-nyatakan negerinya telah bertekuk
lutut kepada sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat.
Pada tangal 14 Agustus 1945 Presiden Amerika Serikat Truman
dan Perdana menteri Inggris Lord Attlee mengumumkan ke seluruh dunia, bahwa
Jepang telah bertekuk lutut tak-bersyarat. Kemudian Kaisar Hirohito
memerintahkan semua pasukan Jepang yang ada di kawasan pasifik “menghentikan
perlawanan”, bukan “menyerah”, pilihan kata bijak untuk tidak menyakitkan hati
bangsanya. Lalu, pada tanggal 18 Agustus 1945 Menlu Jepang Shigemitsu
mengumumkan keka-lahan Jepang terhadap Sekutu kesegala penjuru dunia, dan
Perang Dunia ke II, atau Perang Dai Toa Senso, yang dimulai Jepang di kawasan
Asia pun berakhir.
Di Mangunjaya, ayah dan ibu menerima khabar duka dari
Pematang Siantar yang mengatakan bahwa Namboru Duma Harahap yang tinggal di
Matapao, Perkebunan Kelapa Sawit antara
Me-dan dan Tebing Tinggi (Deli), telah berpulang ke rakhmatulla tanggal 15
Agustus 1945.
Pada tanggal 30 Agustus 1945 Marsekal Terauchi, Panglima
Tertinggi Bala Tentara Jepang da-erah Selatan, menyerahkan pedang samurainya
kepada Laksamana Lord Louis Mountbatten dari SEAC berkedudukan di Saigon
(Vietnam). Sementara di atas Kapal Perang Glory, Jenderal Ima-mura, Panglima
Besar Jepang Kawasan Pasifik Barat Daya, menyerah kepada Jenderal Sturdes dari
Australia. Baru pada tanggal 2 September 1945 utusan Pemerintah Jepang pimpinan
Shi-gemitsu, atas nama Kaisar Hirohito dan Markas Tertinggi Angkatan Perang
Jepang, dikawal Jenderal Yoshijiro Umetsu, berangkat menemui Jenderal McArthur
dari Amerika Serikat di atas geladak kapal perang “Misouri” berlabuh di teluk
Tokyo sedang menunggu bersama 50 orang Jenderal sekutu lainnya. Dalam
laporannya, utusan Jepang itu mengatakan atas nama Kaisar Je-pang bahwa tentara
Dai-Nippon telah kalah berperang melawan sekutu, ungkapan yang me-nyakitkan
hati para perajurit Jepang di tanah-air mereka pada ketika itu.
Setelah Fascist Jerman pimpinan Adolf Hitler ditumbangkan
di Eropa, Belanda memulihkan kembali pemerintahan
di negerinya, setelah selama Perang Dunia ke II Raja terpaksa hengkang ke
Inggris karena diduduki Jerman. Negeri Belanda kemudian mengangkat Dr. L.J.M.
Beel men-jadi perdana menteri. Pemerintah Beel di Den Haag lalu menunjuk Dr.
Hubertus J. van Mook menjadi Leutenant Gouverneur-Generaal untuk Hindia Belanda
yang baru berkedudukan di Ba-tavia, namun untuk sementara berkedudukan di
Brisbane, Australia.
Sejak dari tanggal 15 Agustus 1945, pemerintah Hindia Belanda
baru pasca Perang Dunia ke-II dalam pengasingan telah melakukan sejumlah
pertemuan untuk mengatur kepindahannya ke Batavia setelah Bala Tentara Dai
Nippon ditaklukkan, untuk menerima kembali tanah Hindia Belanda dari tangan
Jepang yang disaksikan Sekutu. Pemerintah Hindia Belanda yang baru ini bernama:
NICA (Nederlands Indies Civil Administration, atau Pemerintah Sipil Hindia
Belanda) yang akan dipimpin Ch.O. van der Plas, sebagai orang yang mewakili van
Mook.
Sejalan dengan upaya memulihkan lagi pemerintahan sipil
seberang lautan di Asia Tenggara, Belanda melakukan mobilisasi umum di negerinya
untuk merekrut para pemuda yang bersedia menjadi serdadu KNIL yang dikirim ke
tanah Hindia Belanda Timur. Dalam pidato melepas rombongan serdadu KNIL yang
berjumlah 3000 orang, angkatan pertama yang bernama: “7 Desember Divisie”
tanggal 20 Desember 1946 di atas geladak kapal Boissevain di Amsterdam,
Jenderal Kruls selaku Kepala Staf Umum Tentara Belanda di Nederland mengatakan:
mereka dikirim bukan untuk melakukan perang kolonial yang baru, tetapi guna
mendatangkan perda-maian dan ketenterman di tanah seberang. Kapal-kapal
pengangkut serdadu KNIL lainnya kemudian menyusul, antara lain: Klipfontein
dengan 1386 serdadu, Kotaagung memuat 1500 serdadu, Ruys, Tegelberg, dan
lainnya. Selain serdadu-serdadu yang didatangkan langsung dari negaranya di
Eropa, Belanda juga merekrut anggota-anggota KNIL dari bekas interniran Jepang
yang bertebaran di kawasan Asia Tenggara pasca perang Asia Timur Raya.
Dalam amar perjanjian kalah perang silam, Jepang mengatakan
menyerah kepada Sekutu: Ame-rika Serikat, Inggris, Rusia dan China diwakili oleh
Jenderal McArthur. Jepang juga membuat rincian kepada siapa wilayah-wilayah
taklukannya akan dikembalikan. Hindia Belanda Timur akan diserahkan Jepang
kepada SEAC yang diwakili Laksamana Mountbatten dari Inggris dan Jenderal
Blamey dari Australia. Tidak terdapat satu kata pun yang menyebutkan negeri
Belanda atau Negara Republik Indonesia tercantum dalam dokumen perjanjian,
meski kedua nama akhir ini amat berkepentingan kepada wilayah yang akan
ditinggalkan Kerajaan Dai-Nippon itu.
Sekutu lalu memerintahkan Detasemen Marinir dan Batalyon
Seaforth Highlanders dari Inggris masuk ke tanah bekas Hindia Belanda, dan pada
tanggal 15 September 1945 kapal perang Cam-berlain pimpinan Laksamana kelas III
Patterson berlabuh di Tanjung Priok, pelabuhan Batavia ketika itu. Patterson lalu
bertindak sebagai penerima tanah bekas Hindia Belanda yang dikemba-likan Jenderal
Nagano, Panglima Tertinggi Jepang di pulau Jawa saat itu. Sepanjang bulan Sep-tember
tahun yang sama, berdatangan lagi pasukan-pasukan Sekutu lainnya ke tanah bekas
Hin-dia Belanda yang disusul tibanya sejumlah divisi berasal aati India.
Pada tanggal 27 September 1945, Jenderal Sir Philip
Christison dari Amerika Serikat ditunjuk sekutu untuk menjadi Pimpinan
Tertinggi tanah bekas Hindia Belanda yang berkedudukan di Batavia. Van Mook
yang memantau rencana Sekutu, tak pelak lagi berusaha mengikut sertakan
NICA-Australia dengan melobi Jenderal McArthur, kala itu masih menjadi Panglima
Tertinggi Sekutu kawasan Pasifik; namun tidak mendapat tanggapan. Adapun tujuan
sekutu masuk ke tanah bekas Hindia Belanda ketika itu untuk melaksanakan amar
perjanjian dengan Jepang yang telah ditandatangani di Tokyo, untuk melucuti semua
pasukan Jepang yang ada di wilayah itu lalu mengembalikan mereka ke Jepang, dan
membebaskan APWI (Allied Prisoners of War and Internees) dari berbagai penjara
dan sejumlah tempat tawanan perang Jepang lainnya.
Zaman Kemerdekaan
Setelah Jepang bertekuklutut pada
sekutu di tanah-airnya tahun 1945, menurut perjanjian kalah perang yang
ditandatangani, Jepang harus menarik seluruh pasukan yang ada di Asia Pasifik kembali
ke tanah-airnya. Sebagai akibatnya, serdadu-serdadu Jepang yang berada di
nusantara, termasuk Sumatera Selatan, dan Mangunjaya, harus juga kembali ke
negerinya. Timbul dengan demikian kekosongan
pemerintah (politik) di nusantara, demikan juga Sumatera Selatan, dan Mangunjaya.
Anak bangsa lalu mengambil alih Perusahaan Minyak Asano-Butai yang diting-galkan
Jepang. Yang akhir ini lalu bergabung dengan Batalyon Genie Pionier TT.II
Sumatera Se-latan yang dipimpin Kapten J.M.Pattiasina, karena 90% dari karyawannay
memilih demikian, dan menjadikannya Perusahaan Minyak Republik Indonesia,
disingkat PERMIRI. Ayah lalu bergabung dengan PERMIRI dan bekerja menjadi
pegawai kantor personalia PERMIRI di ladang minyak Mangunjaya.
Selain menjadi karyawan PERMIRI
di Mangunjaya, ayah juga ditunjuk sebagai Ketua Dewan Penyantun Sekolah Rakyat (SR)
PERMIRI pada Ladang Minyak yang belum lama dibangun untuk menyekolahkan
anak-anak karyawan ladang minyak dan desa Mangunjaya. Di sekolah ini pula anak
ayah ke-5 mulai masuk sekolah, dan malam harinya mengaji kitab “Turutan” kemu-dian
dilanjutkan belajar mengaji “Al-Quran”.
Pada tanggal 17 Agustus 1945,
anak-anak SR PERMIRI merayakan Hari Kemerdekaan NRI per-tama dengan berbaris
dari halaman sekolah menuju ke tengah desa dan arah Muara Punjung, dan kembali
lagi ke sekolah.
Setelah pasukan Jepang kembali ke
tanah-airnya, ayah sekeluarga lalu pindah ke rumah milik PERMIRI bangunan no.
10, 16c. Kehidupan lalu menjadi semakin sulit ketika itu, karena peru-sahaan
minyak nasional tidak dapat lagi membiayai kehidupan para karyawan sebagaimana
se-belumnya, maka ayah sekeluarga terpaksa bertani: menanam ubi rambat di sekitar
rumah, me-ngerjakan sawah di rawa belakang rumah, dan beternak ayam memelihara
kambing. Selain dari sekitar rumah, masih ada lagi sebuah ladang jagung yang agak
jauh tempatnya.
Kegiatan ayah menjadi Ketua Dewan
Penyantun Sekolah Rakyat PERMIRI dari tahun 1945 hingga 1950, oleh Bupati
Kabupaten Musi Rawas dengan surat keputusan tanggal 30 Maret 1960 dinyatakan
sebagai guru sekolah Pemerintah Republik Indonesia sebelum perang yang
menem-pati bangunan N.V. De Bataafsche Petroleum Maatschaappij Mangunjaya.
Karena itu sejak tang-gal 1 April 1950 bangunan dikembalikan lagi kepada
pemiliknya, sehingga ayah dipindahkan ke sekolah lain untuk mempertahankan
kedudukannya sebagai pegawai Pemerintah.
Pada awal kemerdekaan, Kabupaten
Musi Banyuasin terdiri dari Kewedanaan Musi Ilir dengan ibukota Sekayu dan
Kewedanaan Banyuasin degan ibukota Talang Betutu. Keduanya terletak di
keresidenan Palembang. Untuk menghadapi serbuan Belanda bersama sekutunya,
pemerintah yang dilaksanakan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan lndonesia
(PPKI) dibentuk pada tanggal 22 Agustus 1945, lalu memerintahkan KNI Daerah
membentuk Partai Nasional dan Badan Kea-manan Rakyat (BKR). Sejalan dengan
terbentuknya BKR di Palembang maka pada tanggal 27 September 1945 dibentuk pula
BKR Musi Banyuasin yang berpusat di Sekayu.
Dengan pasukan Japang kembali ke negerinya,
Belanda yang memboncengka sedadu-serdadunya lalu kembali masuk ke nusantara, dan
ke Sumatera Selatan. Yang akhir ini masih be-rupa keresidenan ketika itu, terdiri
dari: Palembang, Lampung, Bangka, dan Jambi. Belanda ingin kembali ke Palembang
mengingat peran yang dimilikinya untuk meyakinkan dunia internasio-nal: apabila
Palembang jatuh ke tangan Belanda artinya Belanda juga menguasai pulau-pulau Jawa
dan Sumatera. Dilihat dari sudut ekonomi, menduduki keresidenan Palembang sama dengan menguasai kembali ladang-ladang kaya minyak
mentah dengan kedua pusat penyuli-ngan di Plaju dan Sungai Gerong. Selain dari itu,
keresidenan Palembang juga pusat perdaga-ngan karet, minyak kelapa sawit, dan
hasil bumi tujuan ekspor yang mendatangkan devi-sa. Kedekatan NICA Belanda
dengan sekutu menyebabkan Inggris, pemegang mandat sekutu untuk bekas tanah
Hindia Belanda silam, pada tanggal 7 November 1946 menyerahkan Suma-tera
Selatan kepada Belanda. Pada tanggal 24 Oktober 1946, Belanda lalu melantik
Kolonel Mol-linger sebagai Komandan territorial Belanda di Palembang; dan yang disebut
akhir ini menun-tut dibuatnya garis
demarkasi yang lebih lebar. Perundingan lalu dilangsungkan antara Belanda dengan NRI di ibukota Sumatera
Selatan bulan November 1946 untuk menanggapinya.
Di Mangunjaya tanggal 24 Juli
1946, ayah ambil bagian menyumbang dana dalam kampanye PINJAMAN NASIONAL 1946, No. 61146, seri C 1
(satoe), atas nama putrinya bernama
Fati-mah Marsari sebanyak “seratoes rupiah” ketika itu.
Di Mangunjaya putra sulung ayah Muhammad
Syarif Harahap bekerja di bengkel PERMIRI sebagai montir mesin, lalu bergabung
dengan Bn. Genie Pionier. Terr.II Swd. Setelah mengungsi ke Lubuk Linggau pada
tahun 1955 lalu mengundurkan diri u Bn. Genie Pionier. Terr. II untuk
berwirausaha. Adapun anak ayah kedua Abdul Hamid Harahap pada zaman Jepang
mengikui latihan Heho di Cimahi Bandung Jawa Barat. Akan tetapi karena sakit,
lalu dikembalikan ke Mangunjaya. Setelah sebentar berwirausaha kemudian bekerja
di dministrasi PERMIRI. Setelah mengungsi ke Lubuk Linggau, kembali lagi ke
Palembang dan bekerja di bagian Sipil Trr. II Angkatan Darat. Dari Palembang
lalu pulang ke Hanopan, dan akhirnya meratau lagi ke Jakarta untuk
berwirausaha.
Meskipun perundingan damai telah dilangsungkan,
tetapi pertikaian NRI dengan Belanda tidak mereda, dan terus menimbulkan ketegangan.
Pasukan NRI terdiri dari lasykar dan rakyat telah ditempatkan diseputar Palembang
untuk menghadapi konflik dengan Belanda, saat itu adalah yang terbaik dan
paling dipersenjatai ketimbang yang ada di luar kota, guna mempertahankan ke-merdekaan
yang diproklamirkan tanggal 17 Agustus 1945.
Belanda lalu menyusun kembali pasukan
dalam bulan Desember 1946 di Palembang dan sekitar-nya. Kapal-kapal perang
Belanda lalu mengadakan pengawasan atas lalu lintas pelayaran antara keresidenan-keresidenan:
Palembang, Lampung, dan Jambi, yang asih berhubungan dengan Si-ngapura saat itu,
untuk melakukan blokade ekonomi dan militer. Dengan demikian perdagangan antara
keresidenan-keresidenan disebutkan diatas dengan Singapura terputus, menyebabkan
hasil bumi tidak dapat diangkut keluar dan barang kebutuhan hidup sehari-hari dan
senjata tidak dapat dimasukkan atau
diseludupkan dari Singapura.
Pada tanggal 28 Desember 1946, Belanda
membuat provoksi dengan menembak anggota Lasykar Napindo yang melewati pos
Belanda di Benteng. Dan malam harinya Belanda melanggar garis demarkasi yang telah disepakati: dua
Jeep yang dikendarai serdadu Belanda dari Talang Semut melintas di jalan-jalan
Merdeka dan Tengkuruk, begitu juga jalan didepan Rumah Sakit Charitas dan melepaskan
tembakan-tembakan membabibuta ke berbagai arah.
Keesokan harinya Belanda lalu melanggar kesepakatan dengan menembak
Komandan Deta-semen TRI yang sedang melakukan inspeksi kepada pos-pos pertahanan
NRI. Provokasi beri-kutnya muncul pula pada tanggal 31 Desember 1946, lalu menyulut
insiden dengan TRI berupa tembakan sporadis. Konvoi serdadu Belanda yang datang
dari Talang Semut bergerak ke jalan Jenderal Sudirman. Lalu mobil-mobil yang melaju
kencang melepaskan tembakan ke arah perta-hanan TRI dan Lasykar di tengah-tengah
kota.
Pada tanggal 1 Januari 1947, sekitar jam 05.30 pagi, sebuah
Jeep serdadu Belanda meninggal-kan Benteng dengan kecepatan tinggi. Mereka melewati garis demarkasi yang disepakati. Ser-dadu-sedadu
Belanda ini tampaknya sedang mabuk setelah semalaman merayakan datangnya ta-hun
baru.
Para pemimpin sipil, milter, dan
lasykar di Sumatera Selatan kemudian melangsungkan rapat ko-mando untuk menentukan
sikap NRI terhadap provokasi Belanda. Pertemuan dihadiri Gubernur Muda M. Isa,
Panglima Divisi II Kolonel Bambang Utoyo, dan Panglima Lasykar 17 Agustus
Kolonel Husin Achmad. Mereka bersepakat, untuk menghadapi provokasi Belanda,
NRI tidak hanya membalas serangan, tetapi harus pula menggempur kedudukan dan
pertahanan Belanda di berbagai sektor. Kepala staf Divisi II, Kapten Alamsyah,
lalu mengeluarkan surat perintah “Siap dan Maju” guna menyerang Belanda.
Pemerintah NRI di Palembang, Sumatera
Selatan, terus mendapat tekanan Belanda sebagai aki-bat provokasi militer
Belanda. Untuk menghindarkan ancaman terhadap keberadaan pemerintah Republik di
Sumatera Selatan, dr. M. Isa yang menjabat Gubernur Muda di Palembang ketika
itu, pada tanggal 23 September 1947 lalu mengungsi meninggalkan ibukota Smatera
Selatan de-ngan kapal roda lambung menelusuri Sungai Musi sampai Muara Kelingi
di hulu, dilanjutkan jalan darat ke Lubuk Linggau, lalu Curup (Bengkulu); dan kota
akhir ini lalu menjadi pusat pemerintah NRI dalam pengungsian di Sumatera
Selatan menggantikan Palembang.
Dengan
perintah yang dikeluarkan van Mook dari tempatnya bertugas di Batavia tanggal
21 Juli 1947, tepat 06.00 waktu setempat di
Palembang, Sumatera Selatan, pada hari itu, pasukan Belan-da melancarkan
serangan mengerahkan Pesawat Pembom B.25, Pesawat Mustang, Howitser, Mortir,
Panser dan anggota pasukan infantri untuk menghancurkan seluruh pertahanan TNI
dan Laskar. Belanda membuat operatie product yang dikenal dengan “politionele
acie” (gerakan pe-mulihan keamanan) terhadap pasukan NRI di bekas Hindia
Belanda silam yang oleh fihak Re-publik diartikan sebagai agresi militer. Di bagian
Selatan pulau Sumatera Belanda berniat untuk merebut kembali berbagai daerah yang
secara politik dan ekonomi ama penting artinya ketika itu, seperti: sejumlah
ladang minyak berikut semua kilangnya yang terpaksa ditinggalkan Belan-da ketika
pasukan Jepang datang menyerbu ke nusantara di awal Perang Dunia ke-II.
Politionele actie Belanda di ibukota
Sumatera Selatan menimbulkan apa yang kemudian dikenal dengan “Pertempuran Lima
Hari Lima Malam” dari tanggal 1 hingga 5 Januari 1947 yang tidak dapat dielakkan.
Pertempuran dimulai hari Rabu, tanggal 1 Januari
1947 di Palembang. Yang menjadi sasaran Belanda ketika itu, ialah: “Front
Seberang Ilir Timur”, terdiri dari: jalan Teng-kuruk
hingga RS Charitas, Lorong Pagar Alam, jalan menuju Talang Betutu, 16 Ilir,
jalan Kepandean, Sungai Jeruju, Boom Baru, dan Kenten. Belanda membuat serangan
dengan tembakan beruntun ditujukan pada berbagai
kedudukan pasukan NRI yang terdapat di sekitar RS Charitas. Yang akhir ini menjadi
strategis karena letaknya di atas bukit, dan dijadikan basis pertahanan
Belanda. Di seberang RS Charitas merupakan wilayah NRI dibawah tanggung jawab Resimen
Mayor Dani Effendi.
Sasaran Belanda Belanda selanjutnya ialah: Front
Seberang Ilir Timur kota Palembang terdiri dari Masjid Agung, simpang tiga
Candi Walang, Pasar Lingkis, Lorong Candi Angsoko, dan jalan Ophir. Pasukan TRI
melancarkan serangan balik menuju RS Charitas dan jalan ke Talang Betutu untuk
membantu Batalyon Kapten Animan Akhyat yang sedang bertahan di jalan ke Talang
Betutu. Maksudnya untuk memblokir bantuan kepada serdadu-serdadu Belanda yang
datang dari Lapangan Terbang menuju Palembang, sekaligus memutus hubungan
pertahanan Belanda di RS Charitas dengan Benteng.
Sasaran Belanda lainnya ialah: “Front Seberang Ilir Barat” terdiri dari 36 Ilir, Tangga Buntung, Talang, Bukit Besar, Talang Semut, Talang Kerangga, Emma Laan, Sungai Tawar, Sekanak, dan Benteng. Dari pos-pos pertahanannya, Belanda melancarkan tembakan gencar menuju kubu-ku-bu pertahanan TRI dan Lasykar serta barisan pertahanan rakyat. Adapun Markas Batalyon 32 yang bertahan dipimpin Makmun Murod, dari Resimen XV Divisi II, terdapat di Sekanak. Para Komandan Resimen XV dan Batalyon 32/XV begitu pula perwira mengatur serangan balasan yang ditujukan ke arah Benteng yang menjadi tempat pertahanan Belanda ketika itu.
Pasukan NRI yang berada di belakang Benteng terdesak, lalu mengundurkan diri ke sekitar jalan Kelurahan Madu dan jalan Kebon Duku. TRI dan Lasykar yang berada di Bukit Siguntang me-ngubah taktik dengan memencar masuk ke kampung sekitarnya. Langkah ini diambil untuk men-cegah serdadu-serdadu Belanda menerobos ke 35 Ilir, karena apabila Belanda sampai bergerak di 36 Ilir, Suro, 29 Ilir, dan Sekanak, akan membuat pasukan NRI terkepung. Pasukan Belanda dengan kendaraan lapis baja dan persenjataan modern lalu menguasai Kantor Pos, Kantor Tele-graf, Kantor Residen, Kantor Walikota dan sekitar Jalan Guru-guru di 19 Ilir. Pertempuran per-tama secara keseluruhan sepenuhnya diprakarsai oleh serdadu-serdadu Belanda.
Di Front Seberang Ulu mulai dari: 1 Ulu Kertapati sampai ke Bagus Kuning; termasuk Plaju, Ka-yu Agung, dan Sungai Gerong, berada dibawah tanggung jawab Pertahanan dan Keamanan Wi-layah Palembang Ulu berada dibawah Batalyon 34 Resimen XV dipimpin Komandan Batalyon Kapten Raden Mas, bermarkas di Sekolah Cina 7 Ulu. Pertempuran diawali dengan tembakan mortir oleh pasukan Belanda yang berada di Bagus Kuning, Plaju dan Sungai Gerong ditujukan ke markas batalyon dibawah Kapten Raden Mas. Akan tetapi karena kapal perang Belanda yang tertahan di boom-boom Plaju atau Sungai Gerong, belum dapat memberi bantuan dengan lelua-sa, juga terhambat oleh pasukan ALRI yang ketika itu ada di Boom Baru.
Setelah
front tengah berhasil dipatahkan, serdadu-serdadu Belanda dengan mudah bergerak
menuju ke Prabumulih, dan pada jam 15.00 WIB kota itupun berhasil mereka
duduki.
Dari Prabumulih Belanda
melanjutkan serangannya ke Muara Enim dan Lahat dan berhasil menduduki yang
akhir ini tanpa mendapat banyak rintangan tanggal 28 Juli 1947. Dan setelah
Lahat berhasil diduduki serdadu-serdadu Belanda melanjutkan gerakan militernya
ke Pagar Alam dan Tebing Tinggi (Palembang) akan tetapi terhenti oleh timbulnya
gencatan senjata. Akan tetapi serdadu-serdadu Belanda meneruskan perjalanan menuju
Lubuk Linggau dalam iringan panser seraya membagi-bagikan permen kepada anak-anak
di mana-mana termasuk Tabapingin masih dalam tahun 1947.
Pada
tanggal 31 Juli 1947, Dewan Keamanan PBB (DK-PBB) segera bersidang, dan mengelu-arkan
Nota Nomor 173 yang mendesak Indonesia dan Belanda menghentikan tembak-menembak
secepat-nya, lalu kembali berunding untuk menyelesaikan pertikaian yang ada.
Sebagai akibat resolusi DK-PBB itu,
Presiden Soekarno dan Jendral Spoor mengeluarkan perintah penghentian
tembak-menembak tanggal 4 Agustus 1947. Untuk Sumatera Selatan perintah
penghentian tembak-menembak dikluarkan oleh Komandan Brigade Pertempuran
Garuda Merah (BPGM) dan baru dapat diberlakukan tanggal 5 Agustus 1947 pukul
01.00 malam.
Setelah bertempur lima hari lima malam, maka menjelang 4 Januari 1947 telah tiba di Palembang utusan Panglima Divisi II yang mengabarkan kesediaan Mollinger untuk berunding. Guber-nur Muda dr. M. Isa pun telah mendapat khabar yang sama dari Jakarta. Juga datang ke Palem-bang Dokter A.K (Adnan Kapau) Gani sebagai utusan pemerintah NRI pusat untuk berunding dengan Belanda. Yang menjadi pertimbangan pemerintah NRI berunding dengan Belanda setelah aksi militer pertama (Operasi Produk I) sejak dari 21 Juli hingga 5 Agustus 1947, ialah demi pertimbangan strategis kedepan menyimak sejumlah hal yang tertera dibawah ini:
-
untuk menghindarkan lebih
banyak korban.
-
untuk
mengkonsolidasi kembali kekuatan.
-
memberi gambaran kepada
dunia bahwa bahwa NRI cinta perdamaian, sekaligus menegaskan bahwa
perjuangan di daerah mengakui kebijaksanaan pusat.
perjuangan di daerah mengakui kebijaksanaan pusat.
-
perjuangan
kemerdekaan akan memakan waktu lama, mungkin bertahun.
- sebagian besar pasukan
NRI di Sumatera Selatan terhimpun di kota Palembang, sehingga apabila
bertempur habis-habisan bakal melemahkan kekuatan NRI pada pe-riode perjuangan berikutnya.
- ditinjau dari kacamata militer saat itu, apabila Belanda
dapat menguasai Palembang, maka akan mudah bagi serdadu-serdadunya melakukan operasi
militer di berbagai daerah di Sumatera Selatan.
Setelah agresi militer Belanda
pertama, pesawat terbang pengintai Belanda sering tampil terbang rendah di Mangunjaya
untuk mengamati keadaan. Ketika itu mereka tidak melakukan pem-boman namun
masyarakat diminta menggali lubang-lubang perlindungan untuk menghindari pe-cahan
melayang, seandainya bom benar-benar dijatuhkan. Anak-anak diajarkan menggigit
karet, agar bom benar-benar meledak disekitar lidah tidak akan tergigit oleh
gigi sendiri. Setelah kemerdekaan Prabumulih dan
Mangunjaya berada di bawah perlindungan Resimen 45 dipimpin Mayor Dhani
Effendi. Resimen 44 dan Resimen 45 adalah dua satuan Brigade Pertempuran Ga-ruda
Merah yang bermarkas di Prabumulih dipimpin Kolonel Bambang Utoyo, yang memperta-hankan
wilayah itu, termasuk Bengkulu, Jambi, Lampung, dan ke front-front pertahanan
TNI dan Laskar dalam radius 20 km yang masih berada dibawah pasukan NRI sebagai
wilayah pertahanan.
Pada suatu hari ke rumah di
Mangunjaya, mampir keluarga Sompen Hasibuan yang mengungsi dari Sekayu naik
kapal roda lambung tanpa membawa bekal di jalan. Ayah dan ibu dengan se-nang hati
memberi bekal untuk mereka segoni ubi rambat belum lama dipanen dari halaman.
Ti-dak ada yang menyangka perintah mengungsi juga diberikan kepada warga sipil
di Mangunjaya begitu cepat tak lama setelah perang lima hari lima malam berkecamuk
di Palembang, sehingga pada tengah malam hari kedatangan keluarga Sompen
Hasibuan, ayah sekeluarga juga harus me-ngungsi meninggalkan Mangunjaya. Setibanya
di pelabuhan sungai Musi, ternyata keluarga ayah juga naik kapal yang sama dengan
keluarga Sompen Hasibuan. Apa hendak dikata, ubi rambat segoni yang diberikan kepada
orang terpaksa dimakan bersama dalam pelayaran. Tidak banyak barang yang
terbawa di tengah malam yang singkat itu selain pakaian dikenakan dan apa yang dapat
digapai oleh sebelah tangan.
Awalnya kedua tongkang yang
mengangkut pengungsi dari Sekayu dihela kapal tunda (tug boat). Akan tetapi tidak
lama setelah bertolak meninggalkan Mangunjaya kehulu, kapal tunda pun kan-das
di dasar sungai yang berpasir. Tidak ada jalan lain yang kandas harus diganti,
dan kini kapal roda lambung dijalankan
mesin-uap menggantikan. Dan yang akhir ini lalu menghela kedua tongkang sampai
ke Muara Kelingi di hulu sungai. Kapal roda lambung mempunyai lunas yang datar,
sehingga dapat terhidar dari pasir yang mengendap di dasar sungai ketika permukaan air sungai Musi sedang rendah di
musim panas.
Meski agresi Militer Balanda telah
melanda Sumatera Selatan, ayah masih bertugas beberapa sa-at di Kantor Wedana dalam
pengungsian di Mangunjaya untuk menghimpun berita lewat radio dari berbagai
sumber. Akhirnya ayah dengan karyawan ladang minyak lain yang masih tinggal
lalu menyusul mengungsi dengan kapal roda lambung meninggalkan Mangunjaya. Kemudian
de-sa ladang minyak yang ditinggalkan itu lalu di bumi hangus pasukan NRI supaya
tidak jatuh ke tangan Belanda. Mereka semuanya berlayar ke Muara Kelingi untuk
berkumpul dengan keluarga masing-masing.
Muara Kelingi
Setelah lebih seminggu berkayuh, kapal
roda lambung yang diapit dua tongkang sarat pengungsi dari kedua sisi, berlayar
siang malam dari Mangunjaya dengan singgah di sejumlah tempat tekun berkayuh mengikuti kelokan sungai Musi berair
tenang dan jernih melawan arus ke hulu dikitari hijauan tanaman yang masih lebat, pengungsi yang lunglai penuh kantuk akhirnya tiba di Muara Kelingi. Setelah menuruni
kapal, para pengungsi lalu digiring menuju ke sebuah bangunan bekas gudang getah
(karet) yang sudah dikosongkan. Di dalam bangunan besar itulah, semuanya lalu
berbagi lantai beralas tikar seadanya tempat berdiam siang, dan tidur di malam
hari.
Sumber: Google
Perjalanan mengungsi meninggalkan Ladang Minyak
Mangunjaya tahun 1946
1. Dengan
kapal Kapal Roda Lambung sampai Muara Kelingi.
2. Dilanjutkan jalan darat sampai Tabapingin/Lubuk Linggau.
Tabapingin
Setelah beberapa minggu berdiam
di barak pengungsian disediakan di Muara Kelingi, ayah sekeluarga meninggalkan
gudang getah dan berpisah dengan pengungsi lainnya, lalu berangkat ke
Tabapingin. Di desa ini ayah mempunyai seorang kerabat dari Tapanuli bernama:
Habincaran Siregar, seorang petani yang telah tinggal di Talang Jawa Tabapingin
sejak dari zaman Hindia Belanda. Tidak lama setelah ayah bergabung dengan keluarga
Habincaran Siregar, pada tanggal 18 Desember 1947 ayah membeli sebidang tanah di
Tabapingin dengan sebuah rumah diatasnya. Dengan demikian ayah sekeluarga mempunyai
tempat tinggal baru di Tabapingin tidak jauh dari keluarga Habincaran Siregar
yang telah banyak membantu selama pengungsian.







